Long Live Education, tak ada kata terlambat… Ganbatte!

Jangan katakan Jangan

Menjadi seorang Ibu adalah merupakan tantangan tersendiri bagi saya pribadi. Bagaimana tidak, benar salahnya kita dalam mendidik anak, bisa berpengaruh besar bagi wataknya saat dewasa nanti.

Sering saya mendengar pakar parenting melarang kita mengucapkan kata “jangan” kepada anak. Padahal dalam Al-Qur’an, Allah banyak menyebutkan kata “jangan”.

Sekian lama dalam kebingungan, alhamdulillah, saat kebetulan mendengar kajian ustad Abu Ihsan di Radio rodja, saya jadi mendapat pencerahan, cliiinggg…

Critanya, ada seorang bertanya kepada Ustadz via telepon, isi pertanyaannya kurang lebih begini: Banyak pakar parenting yang melarang kita mengatakan “jangan” pada anak, tapi gunakan kata “sebaiknya”. Padahal, dalam Al-Qur’an, jelas-jelas Allah menggunakan kalimat  ini di banyak ayat. Seperti  “Dan jangan dekati zina”. Kata “jangan” disini bermakna larangan mutlak yang tidak boleh dibantah, sedangkan kata “sebaiknya” masih bermakna boleh mengambil pilihan yang lain. Bagaimana tanggapan Ustadz tentang hal ini?

Beliau –hafidzahullah- menjawab kurang lebihnya seperti ini:

Pertama, kita lihat dulu siapa yang kita ajak bicara. Apakah anak kecil, orang yang jauh lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya, atau yang seusia dan sederajat dengan kita.

Yang kedua, dalam masalah apa kita gunakan kata “jangan”? apakah dalam hal yang berkaitan dengan suatu hukum, ataukah dalam mengajarkan adab.

Kata “jangan”  memang tidak cocok diucapkan kepada anak kecil. Karena mereka hanya akan mencerna kalimat setelah kata “jangan”. Contohnya, “Jangan diambil”, yang ia tangkap hanyalah kata “Ambil”. Maka, dalam hal mengajarkan adab, memang kita hendaknya menggunakan selain kata “jangan”.

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, saat menasehati sahabat kecil yang makan menggunakan tangan kiri, beliau tidak mengatakan kata “jangan”, tapi beliau langsung menegurnya dengan mengatakan, “Wahai anak, ucapkan bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan ambillah yang paling dekat darimu”.

Kedua, kata “jangan” juga tidak cocok diucapkan kepada orang yang lebih tinggi derajatnya atau lebih tua umurnya di atas kita, karena terkesan tidak sopan.

Adapun kepada yang seusia atau sederajat, maka insyaAllah tidak masalah untuk menggunakan kata jangan.

Yang perlu diingat adalah, kata “jangan” harus diucapkan apabila larangan tersebut berkaitan dengan hukum Allah. Karena larangan Allah bersifat mutlak dan tak bisa dibantah-bantah lagi.

Contohnya –ini tambahan dari saya- firman Allah tentang Lukman yang memberi anaknya wasiat; “Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, karena sungguh syirik adalah dosa yang besar”.

Wallaahu a’lam bish shawaab…

Jadi inget masa kecil dulu, setiap orang tua melarang dengan kata “jangan”, saya langsung bertanya “memangnya kenapa ga boleh?”. Dari situlah saya mengambil kesimpulan, setidaknya, kalau kita terpaksa menggunakan kata “jangan”, beri mereka alasan, kenapa hal itu dilarang. Supaya apa? Supaya mereka tahu, bahwa larangan kita mengandung kebaikan baginya. Agar ia tahu, bahwa yang terlarang adalah hal yang buruk.

Semoga Allah membantu kita semua dalam mendidik buah hati kita tercinta. Menjadikan mereka generasi terbaik ummat ini, yang selalu beramar ma’ruf nahi munkar, aamiin…

Jonggol, 29 September 2014

Iklan

Boneka Suzan

Hari demi hari berlalu, ga kerasa sekarang umur baby Jihanku sudah 27 hari, sebentar lagi sebulan, cepet banget yaa masya Allah J

Ngeliat tingkahnya si baby Jihan yang serba unik, jadi inget Boneka Suzan yang sempet ngetrend bagi bocah-bocah taun 90an. Kayaknya sih hampir  tiap anak perempuan punya boneka yang satu ini. Mungkin ngetrendnya boneka ini terkait erat dengan  lagu Suzannya kak Ria Enes kali yaa… Waktu itu akupun punya koleksi albumnya, kayaknya ga gaul banget kalo ga punya kaset Suzan waktu itu. #nyengir

Anak 90an pasti kenal dengan boneka bayi yang satu ini, bulu matanya panjang, pake sweeter berkupluk, ato kadang dengan rambut indah sepundak, bibir merah pake lipstik, kalo dibaringin matanya merem, kalo didudukin langsung melek. Versi yang lebih gaulnya adalah Susan yang punya dot di mulutnya, kalo dicabut dotnya langsung nangis oeek oeek oeek, gitu. Susan mungkin adalah boneka paling ajaib dan paling ‘hidup’ bagi kami saat itu, dimana kami para anak perempuan betul-betul bisa merasakan yang namanya mengasuh bayi.  Yah, walaupun kalo dipikir-pikir mana ada ya bayi yang segitu cantik dan eksisnya J

Boneka Suzan pertamaku dan satu-satunya adalah hadiah ulang tahun kelima atau keenamku, sebelumnya aku mem’bully’ boneka Susan milik kakakku, aku suapin waferlah, dipaksa2 sampe lubang mulutnya penuh dan mampet, aku coret-coret pipi berblassonnya itu, aku ganjel matanya pake kertas sampe jadi Susan the winky eyes, matanya yang bisa melek merem cuma sebelah, hehe.. dan akhirnya begitu dapet boneka Suzan yang baru, alhamdulillah the elder Suzan bebas dari tangan usilku, dan Suzan baruku tetep kurawat dengan baik, kuganti bajunya, kusisir rambut pirang ikalnya, pokoknya cantiklah, ngalah-ngalahin yang punya, karena doi ingusan dan suka main tanah 😀

Sekian dulu lah nostalgilanya, masa kecil itu emang indah banget ya. Kenapadulu waktu kita kecil sering disuruh makan banayak biar cepet gede ya? Tau gitu aku ga usah nurutin kata ortu deh yaa.. J

Gambar

Alhamdulillah

Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami, pada hari Rabu, 21 Mei 2014, pukul 17.07 di RS Harapan Mulia, Kabupaten Bekasi, dengan selamat dan sehat, yang kami beri nama JIHAN ABDULLAH. Semoga kelak bisa menjadi putri yang shalihah, berbakti pada orang tua, berguna bagi bangsa dan masyarakat, aamiin.

Ya, alhamdulillah proses persalinanku berjalan dengan lancar, walaupun harapan melahirkan dengan normal belum bisa diwujudkan, qaddarullaahu wa maa syaa-a fa’al, semoga semuanya bisa diambil hikmahnya dan menjadi tabungan amalan baik bagi semuanya yang ikut andil dalam menolong proses persalinanku.

Rasanya menjadi ibu baru, yang baru memiliki anak sekaligus baru belajar, rasanya nano-nano. Kadang panik, kadang ketakutan, kadang sedih juga karena belum bisa ngurus bayi dengan profesional, dan kadang bahagia luar biasa bisa memandanng Jihan kecilku dan berlama-lama mengecup pipi mungilnya, terharu…

Saat aku tidur di tengah antara suamiku tercinta dan Jihan kecil, rasanya hatiku melayang. rasa bahagia membuncah memenuhi hatiku. menengok ke kiri, kudapati suamiku tertidur lelap, setelah menempuh perjalanan pulang puluhan kilometer, pengorbanan fisik dan mental yang sama sekali tak mudah, wajahnya terlihat lelah, tapi rona teduh tak hilang darinya. Kemudian kutoleh ke kanan, kudapati Jihan jecilku sedang lelap tertidur juga, wajah putih kemerahan tanpa dosanya itu membuat mataku berkaca-kaca, selamat datang nak, selamat datang di dunia, kini aku dapat puas melihat wajahmu, tak sekedar mengusap-usap perut buncit seperti sebelumnya :’). Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah

Kukecup kening suamiku, ia tak bergeming, kemudian pipi Jihan, buah hati kami, dan air mataku menetesi pipi halusnya, ia menggeliat kecil, lalu kembali terlelap. Allah, terima kasih atas karunia ini, terima kasih, sungguh berdosa bila aku tak mensyukuri dan memenjaga dua nikmat yang Kau berikan ini.

Melihat si Abah menggendong putri kecilnya, membacakan Qur’an untuknya, mengucapkan kalimat “Masya Allah, putri Abah nih”, hingga saat ia menggodai putrinya dengan berbagai keisengannya membuatku selalu tersenyum kecil. Rasa sakit yang kurasakan rasanya lunas terbayar sudah. Ternyata suka duka menjadi ibu adalah keharusan yang hampa bila ditinggalkan salah satu komponennya.

Kini aku mengantarkan suamiku pergi bekerja dengan menggendong si kecil, dan menyambutnya pulang dengan begitu pula. Warna baru, betul-betul warna baru. Karena sebelum ini ia pulang dan pergi hanya dengan mengusap perut buncitku, alhamdulillah…

Allah, nikmat yang Kau anugerahkan begitu besarnya, hadiah yang Kau berikan begitu indahnya, karunia yang Kau titipkan begitu sempurna; suami yang luar biasa, dan kini Kau tambahkan dengan anak yang luar biasa, sungguh sempurna ciptaan-Mu, sungguh besar keagunganMu. 

Allah, mudahkanlah aku untuk menjaga amanah sekaligus nikmat yang Kau titipkan, sebagai istri, dan kini sebagai ibu, aku hanya ingin menjadi yang terbaik bagi mereka, mengerahkan segala yang aku bisa, aku mampui, untuk membuat mereka nyaman hidup bersamaku, membuat mereka bahagia menemaniku, hingga akhir nanti.

Jadikan aku istri yang shalihah sekaligus ibu yang bijak, jadikan suamiku ayah yang bertanggung jawab dan penyayang, kemudian jadikan Jihan kami anak yang baik, yang dapat menjadi tabungan bagi kami saat harta dan tahta tak lagi dapat berarti, saat jasad kami terkubur tanah merah, berselimutkan kegelapan, jadikan ia anak yang shalihah Ya Allah, yang selalu menjadi penyejuk pandangan bagi kami, aamiin aamiin aamiinGambar… 

Jonggol, 30 Mei 2014

Tentang Waktu

Waktu, sebuah misteri yang tak dapat  dinalar oleh logika. Betapa sering kita merasa ia berjalan begitu lamban dan tak kunjung berganti. Di lain kali ia berlari begitu cepat bak mengejar mangsa yang tak terlihat.

Waktu, sebuah dimensi yang terus berputar, tak kenal lelah. Tik tok, tik tok, detik berlalu waktupun ikut pergi, milidetik terlewat maka waktupun terus berkurang, tak kenal toleransi, tak bersedia menunggu, begitu tegas dan egois.

Perasaanku  tentang waktu juga tak banyak berbeda dengan kebanyakan orang. Kadang begitu lambat, bahkan pada saat yang sama begitu cepat terasa. Kelak ingin rasanya mempelajari misteri yang satu ini, bagaimana sesungguhnya standar waktu internasional bagi setiap orang? Kenapa 24 jam yang dimiliki setiap orang terkadang serasa begitu jauh berbeda? Yang satu menyelesaikan banyak hal dalam satu tempo, tapi yang lain tak dapat menyelesaikan apapun dalam berkali lipat tempo tersebut.

Ngomong-ngomong tentang waktu, usia pernikahanku kini sudah 10 bulan, sedang memasuki bulan kesebelas, gak nyangka sebentar lagi pernikahanku mencapai umur satu tahun, insya Allah. Adapun usia kehamilanku sebentar lagi mencapai 38 minggu, alias sembilan bulan, yang artinya insya Allah aku akan segera menjadi seorang Ibu –oh my God-. Dan mau tak mau aku dan suami akan segera berganti titel, dari ‘mbak’ dan ‘mas’ menjadi ‘bu’ dan ‘pak’ –oh no-.

Nevermind, panggilan apapun gak masalah, toh menjadi ibu dan ayah adalah sebuah anugerah besar yang gak semua orang bisa merasakannnya, nikmat yang banyak orang lupa untuk mensyukurinya. Banyak orang yang sudah menikah bertahun-tahun tapi belum diberi kepercayaan untuk memiliki anak, atau sudah cukup usia namun belum dianugerahi jodoh oleh Allah, atau bahkan ada yang memiliki anak dengan cara yang tidak halal –na’udzu billaahi min dzaalik-. Alhamdulillah, selalulah bersyukur dan bersyukur karena sungguh Allah akan menambahkan nikmat apabila kita bisa mensyukurinya.

Adapun perasaanku mengenai kehamilan yang makin tua dan perut yang makin buncit ini gausah ditanya. Pastinya deg degan, pastinya penasaran, kira-kira bebi in the janin ini perempuan atau laki-laki? Mirip siapa? Dan kelak akan menjadi apa ya kira-kira? Harapanku dan suamiku sederhana saja; agar ia jadi anak yang shalih, mengerti agama, dan bermanfaat bagi umat manusia. Apapun profesi yang kelak ia jalani, apapun bakat yang ia kuasai, apapun hobi yang ia gandrungi, asalkan halal dan masih dalam koridor syariat, akan kami dukung, dan kewajibannya tetaplah berdakwah, menggunakan perannya dalam masyarakat untuk mengemban tugas dakwah kepada masyarakatnya kelak. Allahumma s tajib du’aa-anaa, aamiin…

Mengingat banyaknya kisah kelahiran berujung kematian di indonesia ini tentunya membuatku sedikit banyak merasa gentar. Mau tak mau ada rasa takut terselip dalam hati. Bagaimana bila aku mati saat melahirkan nanti? Bagaimana aku harus meninggalkan dua orang yang paling kucinta di dunia ini; suami dan bayi mungilku? Bagaimana bila aku tak bisa merasakan menggendong anak manisku walau barang sedetik? Yang bisa kulakukan kini hanya memohon kesehatan kepada Allah, semoga semua bisa berjalan dengan lancar, normal, dan sehat. Aamiin.

Cerita sedikit kali ya tentang aib diri sendiri, aku sampai saat ini belum bisa gendong bayi, hehe. Rasanya takut gitu, mungkin karena dah lama banget gak punya adek kecil dan gaada anak kecil yang bisa dijadiin kelinci percobaan, hehe. Kalau sekedar gendong aja gak bisa, apalagi mandiin dedek bayi coba… Tapi awali segalanya dengan bismillah, banyak juga temen-temen yang tadinya gak bisa tapi akhirnya bisa sendiri, istilahnya mah ‘naluri keibuan’ –ceilaah-. Sama halnya dengan masak kali ya, yang tadinya cuma bisa ngerebus air akhirnya bisa bikin masakan enak tnp takaran bumbu tertentu, itulah yang katanya ‘naluri kewanitaan’, haha. Betewe, masalah masak memasak juga aku jempol kebalik nih, lagi dalam masa-masa latihan, walopun kadang rasannya hampir ‘membunuh’ suamiku yang ngicipin, haha. Semoga aku bisa masak secepatnya dah, minimal masakin masakan-masakan kesukaan suamiku, muuah…

Sekarang kuliahku sedang cuti, dalam rangka menenangkan diri dulu, biar gak kecapekan, sekalian pindah ngontrak rumah ke lokasi yang lebih dekat dari tempat ngajar suami di Bogor. Jadi alhamdulillah gak perlu galau lantaran LDR lagi, hehe. Masalahnya jarak Jonggol-Jakarta itu jauh banget, gak kebayang aja harus nelpon suami malem-malem dan minta dia pulang lantaran udah mulai kontraksi, pastinya gak tega banget dah. Dengan begini kan insya Allah suami bisa siaga, bisa ngejagain aku di saat-saat menegangkan nanti. Allahumma sahhil lanaa umuuranaa…

Kita juga masih belum punya kesepakatan tentang nama anak kita. Padahal udah sejak enam bulan di perkirakan dokter anaknya perempuan, tapi sampai saat ini belum juga ada nama yang sreg di hati kita berdua, haha, gapapa deh, masih ada waktu sepekan lagi smpai akikah insya Allah…

Laki-laki atau perempuan sama saja, eh, bedalah, kalo laki ya ganteng kalo lagi pake peci,, sedangkan perempuan ya cantik kalo lagi pake jilbab. Maksudnya, mereka sama-sama berharga, sama-sama musti dididik dengan benar, dan penyejuk pandangan bagi Abah en Mamanya nanti <3.

Pengen sih punya anak kembar, tapi gak sekarang ini deh. Kenapa? Ngurus satu aja belum belajar, gimana kalo langsung dua? Hehe.  Jadi anak pertama satu aja dulu, nanti selanjutnya boleh deh kembar, biar hemat waktu dan hemat tenaga, hehe. Padahal kayaknya sama sekali gaada bakat gen kembar deh, tapi gapapa, minta sama Allah insya Allah dikasih :*

Hmm, jadi gak sabar pengen ketemu si kecil, kebayang keluarga pada dolan ke Bogor buat ngejengukin aku, so lovely banget deh bayanginnya <3.

Pesanku buat yang lagi berenang di dalem sana; baik-baik ya nak, yang sehat dan kuat, keluar tepat waktu, mudah insya Allah, trus juga kalo cegukan jangan lama-lama, Mama jadi gak tega sama kamu, terus juga kalo nendang jangan kenceng-kenceng, mamanya kesakitan nih, hehe. We waiting for you say, menanti saatnya dedek launching, semoga semuanya dimudahkan oleh Allah, aamiin…

Gambar

                Kadang kenangan masa kecil membuat kita tersenyum, malu dan tertawa saat mengingatnya, apalagi kesalahan-kesalahan polos yang dulu kita lakukan. Kenangan seperti itu bolehlah dikenang untuk kelak diceritakan ke anak-anak kita (*elus2 perut buncit), bukan sekedar untuk bahan tertawaan, tapi juga untuk bahan pembelajaran, jangan sampai kesalahan yang sama terulang.

                Kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu bersama adik iparku. Dimulai dengan perbincangan ringan mengenai bagaimana aku kelak akan mengajarkan anakku membaca Al-Qur’an sebelum mengajarinya menghafal. Mengingat keluhan beberapa teman mengenai sulitnya mengajarkan anak balita membaca dibandingkan menghafal.

                Adik iparku bercerita, bahwa ia lupa kapan mulai belajar membaca Al-Qur’an, yang ia ingat hanyalah keheranannya saat melihat teman-teman seumurannya baru mulai membaca alif ba’ ta’, sementara ia sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Berbeda lagi denganku, aku baru bisa membaca Al-Qur’an saat menginjak kelas lima, itupun masih terbata-bata, berbeda dengan adik-adikku yang sudah bisa membaca Al-Qur’an dalam usia lebih muda lagi dariku.

                Jelas perbedaannnya adalah pendidikan sejak dini. Bagaimana dahulu orangtuaku kurang memperhatikan aspek agama dalam tumbuh kembangku, sedangkan mereka sudah mulai menekankannya kepada adik-adik sejak mereka kecil. Tak masalah apa yang sudah berlalu, yang penting akhirnya merekapun berusaha ‘memperbaikiku’ meskipun saat itu aku sudah hampir menginjak usia remaja.

                Ada kisah konyol lain berkenaan ‘kepolosanku’ dalam masalah agama. Saat itu aku kelas enam SD, setiap sore aku mengikuti madrasah diniyyah -semacam TPA tapi lebih fokus kepada hafalan Al-Qur’an dan pendalaman ilmu agama- yang merupakan salah satu program ‘perbaikan’ yang dicanangkan orangtua bagiku.

Hari itu ustadzah memberi tugas kami untuk menghafalkan Ayat Kursi dan menyetorkannya besok. Dengan polosnya aku bertanya,

“Kenapa harus dihafal sih ustadzah? Bukannya Ayat Kursi itu Cuma kaligrafi yang biasa dipajang di tembok-tembok itu? Emang ada tah di Al-Qur’an?”

                Mau tak mau teman-teman tertawa mendengarnya, apalagi ustadzah. Padahal saat itu aku adalah pelajar madrasah terbaik yang selalu menjadi peringkat pertama tiap semesternya, tapi sayang sekali belum hafal Ayat Kursi dan bahkan tidak tau hakikat Ayat Kursi. Sungguh terlalu, sungguh memalukan J.

                Setelah lulus SD aku mendaftar di sebuah Pondok pesantren di Solo. Tinggal di penjara suci selama 6 tahun ditambah masa pengabdian satu tahun  jelas membuatku tak lagi sepolos dulu. Tak hanya berhasil menghafal Ayat Kursi, bahkan surat Al-Baqarah dan beberapa juz yang lainnya berhasil kuhafal. Tak sekedar alif ba’ ta’, bahkan kaedah-kaedah bahasa Arab sudah kupelajari.

                Sekarang setelah aku terdaftar dalam daftar mahasiswa Kampus Arab, aku makin merasakan bahwa ini semua adalah nikmat yang tak terkira. Bisa mempelajari Al-Quran, agama Islam, dan bahasa Arab adalah sebuah nikmat besar yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.

                Rasulullah salallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barangsiapa yang Allah inginkan baginya kebaikan, maka Allah akan menjadikannya orang yang paham agama”.

                Alhamdulillah, alhamdulillah ‘alaa hadzihin ni’am. Betapa banyak yang mendapatkan kesempatan belajar agama justru menyia-nyiakannya dan memilih berhenti. Di sisi lain betapa banyak yang ingin belajar namun waktu dan kesempatan tak mengizinkannya. Sedangkan aku disini, diberi kesempatan dan kemauan, maka tak ada yang patut dilakukan kecuali memperbanyak syukur dan memperbaiki niat.

                Dan kini aku bertekad akan menjadi ibu yang terbaik bagi anak-anakku kelak. Takkan kuizinkan seorangpun mendahuluiku mengjarkan Al-Fatihah kepada anakku, karena Al-Fatihah akan dibaca sepanjang hayatnya, minimal 17 kali sehari. Tidak juga dengan Ayat Kursi, dan bahkan tidak pula alif ba’ ta’. Aku dan suamiku harus menjadi sekolah pertama bagi mereka, yang mengajarkan dasar-dasar agama, akhlak, adab, bahkan bahasa Arab.

                Biarkan kami yang akan mendapat pahala terbanyak dari amal-amal yang kelak mereka lakukan karena kami yang mengajarkannya. Karena mereka adalah ladang bagi kami, kelak mereka yang akan menjadi sumber rahmat saat jasad kami terkubur tanah bertemankan kegelapan. Karena kelak insya Allah mereka juga akan menjadi da’i yang akan mengajarkan agama pada banyak orang.

                Rabbanaa hab lanaa minash shaalihiin… Aamiin.

                Gambar

Jakarta, 22 Maret 2014

#LatePost

Tenangkan hatimu, nak, jangan khawatirkan apapun, mama disini bersamamu…

00.0

Inilah yang mereka namakan dengan malam tahun baru

Waktu dimana langit dipenuhi bunga-bunga api, silau, indah memang..

Tapi daratan dipenuhi bau asap dan suara bising, ah, mengganggu sekali

Saat dimana orang-orang itu turun memenuhi jalan

Membakar uang di kantong mereka demi ikut memeriahkan sambil membawa corong-corong yang mengeluarkan suara klakson, mereka sebut ini gengsi dan keharusan

Mengapa mereka harus membuat malam ini bising dengan ledakan-ledakan itu? Mengapa tidak mereka buat tenang agar semua bertafakur bahwa dunia makin tua? Ini sudah tradisi, jawabnya

Malam ini mereka bersuka cita, membuat ribuan harapan, tapi esoknya mereka tak merubah apapun kecuali tidur sepanjang hari sambirbermalasan

Jangan takut nak, tenangkan hatimu

Andai bisa kututup telinga mungilmu tuk melindungimu dari suara dentuman ini maka akan kulakukan…

Namun kini tenanglah, tidurlah dengan nyenyak dalam balutan air ketuban, kuharap suara bising ini dapat sedikit teredam…

Ini bukan suara dentum bom dan ledakan senapan, nak…

Negrimu masih aman, kita masih akan bisa tidur nyenyak, alhamdulillah

Pagi masih tetap indah dan malam masih dapat berbintang

Tidak seperti anak-anak kecil Syiria yang harus kehilangan nyawa

Bahkan tumbuh dalam ketakutan dan kekalutan

Tidak seperti janin wanita-wanita yang harus mati sebelum mereka melihat dunia

Negrimu masih aman nak, masih subur, masih bisa menumbuhkan banyak harapan,

Awannya masih dapat meneteskan butir-butir kebaikan…

Kelak saat kau lahir dan dapat melihat dunia

Memijakkan kaki mungilmu di tanah air tempat kau terlahir,

Bersiaplah untuk mengemban amanah terbesar, amanah dakwah di jalan Allah

Ajarkan apa yang seharusnya mereka lakukan

Kemana mereka musti menginvestasikan uang mereka

Antara membumi hanguskannya di dunia yang memang fana ini,

atau menitipkannya ke surga untuk kelak dinikmati

Orang-orang semakin buta, nak

Dunia makin rusak mencerminkan akhlak para penghuninya

Tapi kami barharap banyak pada generasi mendatang

Generasi kalian wahai da’i masa depan..

Sekarang tidurlah, nak,

Nikmati duniamu yang tentram

Karena insya Allah kelak kau akan terlahir dan tumbuh jua di dunia yang hitam-putih ini

Tidurlah karena seluruh manusia kini terjaga…

Sebagian mereka bermaksiat berfoya-foya

Sebagian lagi menikmati malam berhias warna

Yang lain terganggu kebisingan sambil menutup telinga

Dan sekelompok lagi membuka buku untuk menghadapi ujian…

Tenangkan hatimu, nak,

Kini suara-suara itu sudah mereda,

Hanya menyisakan cabikan kertas di mana-mana

Jakarta, 1 Januari 2014

Sebar Sabar

Apakah Anda menjadikan sabar sebagai pilihan pertama? Atau malah yang terakhir?

Apa  sih sabar itu, bagaimana hakikatnya, kapan seseorang bisa dikatakan penyabar? Saya pribadi sering bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, karena emang kenyataanya saya ga ngerti banyak tentang devinisi si sabar ini.

Nah, karena penasaran, akhirnya saya buka Kamus Bahasa Indonesia #ciaahh, dan saya menemukan bahwa sabar adalah: Sikap menerima apa adanya, tak pemarah, tenang, tahan menderita.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata tentang hakikat sabar, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24) http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hakikat-sabar-1.html

Jadi, sabar dalam agama Islam ga sekedar menahan marah sambil ngelus-ngelus dada. Tapi lebih luas daripada itu, sabar mencakup tiga hal; sabar dalam menghadapi takdir Allah (terutama musibah), sabar dalam ketaatan, dan sabar dalam menjauhi larangan Allah.

Ngomong-ngomong tentang sabar dalam menghadapi musibah, saya ingin kembali bertanya, apakah Anda menjadikan sabar sebagai pilihan pertama atau terakhir dalam hidup Anda? Jawabannya simpan saja dulu dalam hati Anda. Pasalnya banyak orang yang berkata ‘’Saya sudah cukup sabar’’ tapi ia masih aja mengeluhkan masalahnya. Ada lagi yang bentuk sabarnya adalah meninggikan suara mengatakan “Sabaarrrr, sabaarrrr…”  sambil ngelus-ngelus dada gitu deeehh…

Dan nyatanya. Sedikit sekali orang yang bisa mengambil opsi pertama –menjadikan sabar sebagai pilihan pertama-, kenapa? Mungkin karena manusia memang diciptakan sebagai pribadi yang mudah mengeluh. Padahal Allah telah menjanjikan banyak kebaikan loh buat orang-orang yang bersabar.

Firman Allah, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).

Allah ta’ala juga berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).

Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).

Contoh gampangnya gini, hape kesayangan yang kita beli pake peluh usaha sendiri tiba-tiba ilang dicopet orang!! Apa yang Anda lakukan?

  1. Sedih, nangis mungkin (kalo cewek), ngedoain orang yang nyolong, setelah sehari dalam kegalauan, akhirnya sabar. “Sabaarrr, sabaarrrr” #sambil ngelus dada.
  2. Sedih (ini wajarlah), nangis (bisa jadi), tapi lebih memilih untuk ga mengeluarkan kata-kata buruk, bahkan bisa berpikir kalau seandainya hape itu ga dicopet mungkin bisa membahayakan dia, dan mengucapkan ‘‘alhamdulillaah ‘alaa kulli haal’’.

Nahloh, ga bisa dipungkiri hampir semua orang akan melakukan opsi pertama, menjadikan kesabaran sebagai pilihan terakhir, artinya, mau gimana lagi? Itu copet mau dikejer juga udah kejauhan, mau ngulang waktu lagi juga ga bisa, maka tidak ada pilihan kecuali satu; bersabar.

Bener ato bener??

Ga banyak yang bisa saya tuliskan mengenai sabar, tapi setidaknya simaklah baik-baik dua hadits berikut:

Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda: “Amat menakjubkan sekali keadaan orang mukmin itu, semua keadaannya itu adalah kebaikan baginya. Dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada melainkan hanya untuk orang mukmin saja, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesusahan, ia bersabar dan ini adalah merupakan kebaikan baginya.” (Riwayat Muslim)

Dari Anas r.a., “Nabi s.a.w. berjalan melalui seorang wanita yang sedang menangis di samping sebuah kubur. Beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!” Wanita itu berkata: “Menjauhlah dariku, kerana Anda tidak terkena musibah sebagaimana yang mengenai diriku dan Anda tidak mengetahui musibah apa itu.” Wanita tersebut diberitahu – oleh sahabat beliau s.a.w. – bahwa yang diajak bicara tadi adalah Nabi s.a.w. Ia lalu mendatangi pintu rumah Nabi s.a.w. tetapi di depan rumahnya tidak didapati penjaga-penjaga pintu. Wanita itu lalu berkata: “Saya memang tidak mengenai Anda – maka itu maafkan pembicaraanku tadi.” Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Kesabaran – yang sangat terpuji – itu hanyalah ketika musibah datang pertama kalinya.” (Muttafaq ‘alaih). Maksudnya adalah, sejak musibah datang pertama kali, bukan setelah berlalunya waktu.

Sekian celotehan saya tentang sabar, ga terlalu mendetail tapi semoga bermanfaat, dan semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam barisan hamba-hamba-Nya yang bersabar.

Semoga kita juga bisa menerapkan kata sabar dalam tiga keadaan diatas, aamiin…

 

 

 

 GambarGambar