Long Live Education, tak ada kata terlambat… Ganbatte!

Archive for November, 2013

Durhakakah Aku Bila…

Kisah ini bukan dongeng, betul-betul terjadi di atas bumi. Tokoh ceritanya adalah orang yang sangat aku kenal. Mau ikut menyimak cerita? Dari sinilah kisah ini bermula.

Suatu hari sekitar tahun 90an,  lahirlah seorang bayi perempuan yang imut dan lucu. Bayangkan betapa bahagia semua orang menyambut kedatangannya yang ditunggu-tunggu. Bisa bayangkan apa yang yang dirasakan semua orang tatkala itu? Seharusnya mereka bersuka cita.

Namun sayang rasa suka harus bercampur duka. Bukan karena si bayi lahir dalam keadaan tak bernyawa atau tak sempurna, namun kedatangannya di dunia juga menghantarkan nyawa lain meninggalkannya, nyawa ibunya. Seorang anak yang lahir dalam keadaan piatu. Beruntung semua orang tetap menyayanginya, tak berkurang sedikitpun.

Si tokoh kecil kita ini tumbuh dengan gelimang kasih sayang, kerabat dekat dan sanak saudara begitu menyayanginya. Apa yang ia minta selalu dituruti, beruntungnya si kecil kita ini bukan tipe orang berhati keras. Ia selalu meminta dengan cara manja anak-anak yang lugu.

Diumurnya yang belum juga menginjak tiga tahun, Ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita. Wanita yang tegas dan berwatak koleris-melankolis. Tak ayal gabungan dua kepribadian kuat ini mendominasi rumah. Sejak saat itu, ia tak lagi dapat bebas menyebut atau mengenang tentang ibu kandungnya. Demi menjaga keharmonisan dan keutuhan keluarga baru mereka.

Yang harus dilakukannya di rumah adalah menganggap sang Ibu tiri layaknya Ibu kandung baginya. Tak ada kata kenang atas Ibu kandungnya.

Tak lama akhirnya ia dibawa ke rumah bibinya untuk dititipkan disana beberapa tahun. Bibinya ini adalah kakak dari Ibu kandungnya. Sangat menyayanginya dan selalu menjadikannya nomor satu dalam hidup. Disana ia mengenal banyak hal tentang sang Ibu. Putri kecil kita ini selalu menangis setiap mendengar tentang Ibunya, entah mengapa, tapi selalu saja ia rindu. Tampaknya tubuh dan pikirannya masih terlalu muda untuk menanggung ujian ini, terlalu muda untuk ditekan terus menerus oleh situasi.

Suatu hari ia bermimpi, bermimpi melihat sosok wanita ada di sebuah ruangan dengan penerangan lampu-lampu emas. Wanita itu hanya diam, tak mengatakan apapun padanya. Tapi entah bagaimana ia tahu itu adalah Ibunya.

Ketika terjaga, anak kecil ini segera berlari menuju bibinya, menceritakan mimpi indah yang dilihatnya. Ia meminta diyakinkan, “Tunjukan foto Ibu padaku,” katanya. Segera sang bibi membukakan album foto besar, “ini Ibumu, nak.” jelasnya. Dan sang putripun menangis. Foto itu, dengan ekspresi yang sama, adalah wanita yang ia lihat dalam mimpinya. Bibinya terharu saat mendengar cerita polos tokoh kita ini.

Singkat cerita, ia tumbuh dewasa, dan sudah mulai melupakan wajah sang Ibu. Gadis kita kini tak mau lagi melihat foto Ibunya, beban hidup yang dirasakannya akan membuatnya menangis bila memandang wajah Ibu. Wajah Ibunya hanya membuatnya makin sedih, lumpuh, dan merasa begitu tak berdaya. Maka cukup baginya untuk mengenang nama Ibu dalam hati dan mengirimkan doa tulus baginya yang tercinta.

Gadis kita ini selalu menjadikan orangtuanya,  sebagai motivator baginya. Apa yang ia lakukan selalu dengan niatan untuk membuat orangtuanya tersenyum. Walaupun Ibu tak melihatnya, tapi ia percaya bahwa pahala kebaikan dan doa yang ia ukir selalu sampai kepadanya. Ia hanya ingin selalu mengirim bagi mamanya hal-hal yang baik. Agar Ibunya disana tahu, bahwa disini, di dunia ini, masih ada anak gadisnya yang selalu ada untuk mendoakannya dan mengharapkan tempat terbaik baginya.

Ia menuliskan nama Ibunya dalam lembaran buku, dan mengukirnya dalam hati. Agar ia bisa menjadi anak shalihah, mendoakan Ibunya, dan kelak bertemu di surga.

Waktu berjalan begitu cepat, akhirnya ia dipertemukan dengan seorang suami lembut yang selama ini diimpikannya. Dan tentu ia ingin memperlihatkan foto mendiang Ibu kepada sang suami. Namun betapa terkejut ia saat  membuka foto Ibu, dan menyadari bahwa ia tak dapat mengenali sosok ibunya.

“Ibu, durhakakah aku? Kupikir selama ini cukup bagiku mengenang nama tanpa wajahmu, bagaimana bisa seorang anak tak mengenali wajah ibunya? bagaimana bisa aku tak mengenali sosokmu dalam kumpulan orang dalam foto ini? Maafkan aku, Ibu, aku tetap menyayangimu..”

Ibu… Mulai saat ini akan kuingat paras cantikmu dalam hati dan pikiranku, kulukis dengan tinta emas berbingkai permata…

Hingga ku tak lagi ragu, bahwa disana, nun jauh disana, ada seorang ratu mulia yang menanti doa dan ucapan terimakasih dari putri kecilnya, doa yang dapat membuatnya mengerti bahwa rasa sakit dan pengorbanan nyawa ternyata tak sia-sia…

Aku sayang ibu, aku rindu ibu, dan akan selalu seperti ini, walaupun kita belum pernah sempat bertatap muka…

Tapi kutahu, dalam darahku mengalir darahmu, dalam hatiku terukir namamu, dan tak akan ada orang yang pernah dapat merubahnya, takkan ada, sekeras apapun mereka berusaha. Karna rasa sayang ini adalah pemberian-Nya, adalah sebuah naluri yang takkan menyelisihi hati nurani…

Rabbi ighfir lahaa, wa r hamhaa, wa ‘aafihaa, wa ‘fu ‘anhaa, wa wassi’ mudkholahaa, wa akrim nuzulahaa,,, :’)

Ceritanya terlalu ringkas ya? Hehe, soalnya kalo diceritain detail sang tokoh nanti bisa penuh nih blogku sama kisah hidup dia. Tapi semoga kisah yang agak kaya dongeng ini bisa diambil manfaatnya ya.. 😀

Dan bersyukurlah bagi kita yang masih memiliki orangtua, banyak-banyaklah berbakti, karena sungguh, kenikmatan hanya bisa kita sadari setelah ia hilang. Jangan sampai suatu saat nanti kamu menyesali perbuatan jelekmu kepada orang tua. Dan bagi yang orangtuanya sudah mendahului berpulang, masih ada cara untuk berbakti, mari kita doakan meraka dengan sebaik-baik doa. Karena doa kalian akan sampai kepada meraka. :,)

Kita doakan ya kawan, semoga tokoh dalam cerita ini dapat dipertemukan kelak dengan ibunya dalam sebaik-baik keadaan. Aamiin…

 

unduhan

Gambar

Ijinkan Aku tuk

Postingan aku sebelumnya selalu berkaitan dengan motivasi dan opini-opini aku mengenai hal-hal di sekitarku. Tapi tak dapat dipungkiri yah, ternyata seorang aku punya perasaan juga terhadap cinta, dan banyak juga menuliskan tentang hal yang satu ini. Karena ingin jadi penulis profesional sejak dulu #cieh elaah, makanya sekarang aku beraniin deh mempublikasikan tulisan-tulisan aku tentang cinta. Dan ternyata disinilah begitu kentara sisi melankolisku #cihuii. Yak.. Selamat menikmati, selamat tertawa, selamat menangis (ngapain coba..?). Cekidott…

Ijinkan akutuk memperinci semua perasaan ini.
Ijinkan aku tuk mengatakan “Aku ingin memilikimu, aku takut kehilanganmu.”
Ijinkan aku tuk meminta maaf, bahwa kau bukan orang pertama yang memasuki hatiku, yang membuat hatiku berbinar aneh… Tapi kamu adalah orang pertama yang membuatku  merasa seperti ini, membuatku merasa begitu tenang dan aman… Kau adalah orang pertama yang ku harap mau menjadikanku yang terakhir dalam hatimu, yang mau menerima aku apa adanya… Aku yang penuh kekurangan ini…

Aku bukan siapa-siapa untukmu, dan kamupun bukan siapa-siapa untukku, setidaknya hingga detik ini, setidaknya hingga saat itu tiba…

Kita, walaupun tak saling mengenal, walaupun jauh di mata jauh di hati, tapi entah mengapa kali ini hatiku tak bisa lagi membohongi, aku selalu berharap kali ini  Allah menganugerahkan perasaan ini untuk orang yang tepat, untuk orang yang memang dilahirkan untukku, dilahirkan untuk menemaniku mengarungi kehidupan yang baru, kehidupan penuh misteri tapi penuh misi Illahi…

Orang yang memang dilahirkan  untukku, untuk mendampingi kehidupan dunia dan akhiratku kelak…

Aku tahu rasa ini tidak seharusnya tumbuh sekarang, aku tahu akhirnya fitnah yang kita takutkan pun menimpaku sekonyong-konyong…

Tapi berjanjilah, kau akan datang untukku, datang untuk benar-benar manjemputku tuk hidup bersamamu…

Berjanjilah kau benar akan datang dan membebaskanku dari kekang yang membelenggu jiwaku…

Berjanjilah kau takkan membuatku sakit sebagaimana orang-orang yang dahulu, berjanjilah untuk menjadi yang pertama dan yang terakhir dalam hidupku, dalam hidup kita kelak…

Berjanjilah kau akan menjadi pendampingku dan mencintaiku karena-Nya, membimbingku kedalam  surga-Nya…

Janji yaaa…15219_542183722489485_1361599078_n

Jakarta, 19042013

Kisah di balik catatan ini sangatlah ‘panjang dan melelahkan’, kata seorang kawan yang kuperunyukkan puisi ini khusus baginya. Hehe

Jadi ini adalah kisah seorang wanita muslimah lulusan pesantren yang berusaha menjadi shalihah, sedang ingin menjaga hatinya, agar tidak dulu jatuh cinta, bahkan pada calon suaminya sendiri. Keduanya menanti hari yang indah itu segara tiba, hanya karena keduanya takut merasakan perasaan cinta yang belum seharusnya dirasakan.

Menunggu waktu halal selama setengah tahun, sementara hatinya sudah ‘separuh terpaut’ pada seseorang, tentu berbeda rasanya dengan para jomblowers yang sama sekali belum mengenal seorang priapun dalam hidupnya. Apalagi si ikhwan yang satu ini dikenalnya melalui proses taaruf. Yang semua kelebihan dan kekurangannya gamblang sudah di depan mata.

Yah, namanya juga hati. Setan tak akan diam membujuk hati seseorang. Nah, akhirnya saat tumbuh rasa-rasa itu, ia menuliskan isi hatinya. Ia ketik dengan rapi di file2 laptopnya, hingga tak ada yang dapat membacanya kecuali ia. Hatinya sedih mengapa harus goyah di hadapan fitnah yang satu ini.

Tapi akhirnya ia berusaha kembali menata hatinya, jangan lagi ada setitik cinta sebelum saatnya tiba. Bukankah memang seorang wanita seyogyanya menjaga kehormatannya, menjaga hatinya dari hal-hal yang menurunkan izzah dan kemuliaannya di hadapan semesta, dan Sang Pencipta?

Happy ending ga tuhh?? #bukan novel nihh

Sepatah Kata Tentang Ujian

30 Oktober 2013 pukul 14.11

Catatan ini udah pernah saya posting sebelumnya di fesbuk, jadi ini adalah hasil copas dari fesbuk. Biar manfaatnya lebih langgeng makanya saya poeting ulang dimari. 🙂

Bismillah…
Langsung aja ah, kata2 pembuka selalu butuh pemikiran berrrrkali-kali…

UTS ato ujian2 yang laen jangan dianggap sebagai beban
Kalo dipikir2 kebanyakan orang ga akan serius belajar kalo ga ada ujian-illa man rohima robbuk-
Ujian, jadikan ia sebagai batu loncatan, belajar giat sebelum ujian bukan berarti belajar hanya karena nilai kan? 
Jangan terlalu parno dan berburuk sangka, “Si Fulanah belajarnya getol amat ouy kalo sebelum ujian, patut dipertanyakan ih…”
Heyyy… Qul a antum a’lamu amillaah??!

Ujian diciptakan kan sebagai ajang latihan, sampai mana kemampuan dan pemahaman kita
Ujian juga bisa jadi ladang diskusi bareng temen2, biasanya rumpi sana sini sekarang jadi Abu Tammam dan Sibawaih, ajib ga tuh..?

So… Ujian itu menyenangkan (ato setidaknya anggaplah menyenangkan)…
Dan di balik ujian selalu ada hikmah#eciyeee

Kalo udah usaha tapi masih aja hasil ga sempurna?
Teman, ujian kan buat murojaah, bukan cuma buat nile, anggep aja ihdal husnayain, nilai no murojaah oke… 
Lah emang mau diapain lagi? 
Toh masih ada waktu buat memperbaiki, Nihaiy…
Nah, kesalahan sekali jangan terulang lagi…

Jadi.. Ga banget kalo setress n mewek cuma karena salah pilih jawaban
“Ahhh…. Jawabanku salah satu ternyataaaaa… Gimana nih? Nanti aku rosib gimanaaa???!!!”
Hihi… Hello, ada yang punya sumpel telinga ga? 😉

Ini bukan note sindiran yah ceman2… Alhamdulillah semua temen2 -maasyaAllah- tegar sama hasil ujian yang mungkin beberapa hari yang lalu rada ‘ehm’ gitu…

Ini cuma sekedar tuangan perasaan seorang Nemy…
#waduh judule curcol dong

Bukan curcol jugaaaa -_- tapi hanya bentuk motivasi diri.

Aku selalu bilang “Ngomong itu lebih gampang dari kenyataannya”, tapi apa salahnya ngomong sama diri sendiri selama itu bisa membuat kita lebih semangat… Bukankah kita dianjurkan untuk saling menasehati? So menasehati diri sendiri ga papa toh… 😀

#panjanglebarrr

 

Move On

Ini adalah sambungan dari artikel corat coret mengenai kegagalan yang aku tulis sebelumnya. Tapi sebelumnya jangan katain aku plin-plan yaaa, kan memang berbuat itu tak semudah bicara, hahaha… Makanya aku pisahin dengan artikel yang lalu, biar yang baca ga terlalu bingung dibuatnya. 

Ya, ininih sekelumit curcolanku mengenai kegagalan. Umurku di kampus udah hampir 3 tahun, selama 5 semester yang lalu aku memang jarang mencicipi kegagalan. Alhamdulillah aku selalu dikaruniai kemudahan dalam memahami matkul yang ada, dapat nilai yang tergolong bagus lah, rajin belajar walaupun ga terlalu sepaneng. Tapi ini yang bener-bener aku syukuri, betapa rasa ingin rajin mengulang pelajaran adalah hidayah Allah ya, ga semua orang punya kemauan untuk mau melek di kelas trus begadang di rumah, alhamdulillah…

Seandainya aku gagal UTS satu dua matkulpun ga pernah aku bikin pusing, masih ada pelajaran lain yang bisa bikin aku tetep unggul, ga usah mikir ini itu. Lihat  betapa dulu aku begitu legowo menghadapi kegagalan kecil. Mungkin karena sejak kecil aku juga bukan tipe pelajar yang terlalu WOW gitu. Biasa aja, rata-rata.

Nah, semester ini nih, gatau kenapa, rasanya bawaannya futur mulu. Di lain sisi aku bersyukur telah dikaruniai suami yang baik dan janin yang mulai berkembang di perutku. Tapi namanya calon ibu muda yang masih childish ini, betapa mabok hamilnya dipake alesan buat banyak tidur n ngantuk di kelas, plus jadi suka leyeh-leyeh di rumah. Tentunya ini bukan salah si dedek bayiku yang manis ini, tapi memang salah ibunya yang ga mau agak lebih memaksakan diri untuk tekun, hehe. Buktinya banyak juga kawan-kawan yang hamil n tetep bisa aktif belajar kayak biasanya. Jempol deh buat mereka..

Dan walhasil, dari UTS paling awal, nahwu, aku gagal. Selanjutnya, tauhid, aku gagal, bukan gagal total kaya nahwu, tapi soal yang semudah itu aku gak bisa mencapai nilai maksimal, miris, cuma gara-gara salah memahami soal. Lagi, lagi, dan lagi. Puncaknya adalah ujian Tsaqafah, hanya diminta menyebutkan devenisi aja ga bisa, padahal materi tergolong sedikit dan mudah. Duhhhh, rasanya ga ada lagi nilai sempurna yang akan menghiasi transkip nilaiku semester ini. Sedih, mau ga mau harus sedih. Walopun aku masih bisa cengengesan di depan teman-teman dan menganggap semua seolah biasa aja, namun aku akui, kali ini aku gentar.

Dan sebentar lagi test penerimaan fakultas Syari’ah di kampus. Bingung aku dibuatnya. Apa yang musti aku persiapkan? Sedangkan sekarang aku sudah begitu down memikirkan nilai-nilai UTSku yang ancur-ancuran ini.

Dan Allah kembali mengaruniakan kasih-Nya untukku, Hari Kamis lalu, hasil UTS salah satu matkul dibagikan, dan, sempurna… S E M P U R N A, nilaiku sempurna!!  Tertawa kecil aku melihatnya. Dulu nilai-nilai ini begitu sering kunikmati dan mungkin jarang kusyukuri, kini saatnya aku banyak bersyukur, alhamdulillah… 

Dan teman-teman berdecak kagum, mengingat hanya tiga dari 56 orang yang berhasil mendapat  nilai sempurna. Mau tak mau aku tersenyum, alhamdulillaah…

Dan Kemarin, Sabtu,  23 November 2013 akhirnya aku dapat kembali mengerjakan soal ujian penerimaan fakultas Syari’ah dengan lebih tenang  dan percaya diri. Aku memang tak bisa menjawab semua soal, dan pasti nilaiku jauh dari kata sempurna, namun aku tak berhenti meyakinkan diriku, aku bisa, dan aku akan diterima insyaAllah. Tinggal menunggu pengumuman dan mempersiapkan diri untuk interview. Alhamdulillaah…

Berjuang mempertahankan prestasi, bagiku bukanlah sebuah aib. Bukankah kita boleh bahagia ketika berhasil dan sedih ketika gagal? Bukankan memang fithrah manusia diciptakan dengan watak seperti itu? Dan bagiku, keberhasilan dan prestasi bukan hanya kebahagiaan bagi diriku sendiri, namun juga bagi orang tuaku yang selalu mengharapkan nilai terbaik yang bisa aku  persembahkan, juga buat saudari-saudariku yang selalu mendukungku dari belakang, dan kini ditambah satu lagi orang yang sangat kucintai, suamiku tersayang. Memberikan mereka rasa bangga adalah sebuah kesuksesan tersendiri bagiku. Bukankah membahagiakan orang lain juga berpahala? 🙂

Inilah kisahku, betapa terkadang kegagalan yang justru membuat kita semakin gagal, gagal, dan gagal lagi. Kita butuh mencuri moment untuk dapat kembali bangkit. Kesuksesan kecil bisa membantu kita. Kita hanya butuh tiga hal untuk menghadapi hidup; Keyakinan, Usaha, dan Doa. Tiga kekuatan yang tak ada bandingnya asalkan kita bisa selalu menggabungkan mereka di setiap jalan yang kita tempuh. Wallaahu a’lam.. 🙂

Ganbatte..!!! Hidup itu indah…Gambar

Sampingan

Semua Berhak Gagal

unduhan (3)“Gagal”, ada apa dengan kalimat satu ini? Dan kenapa setiap orang dibikin gentar olehnya? Bukankah setiap orang berhak mencicipu kegagalan? Apa salahnya?

Kata “gagal” jangan pernah kita jadikan makanan pokok atau cemilan favorit. Tapi setidaknya anggaplah kegagalan seperti cabe setan, kadang ga sengaja kegigit, kepedesan, cari air, minum, selesai. Itu akan membuat kita lebih hati-hati lagi…

Dan, kegagalan ga pernah menjanjikan ga akan mengganggu orang yang tekun bukan? Tiap orang berhak merasakannya. Dan tiap orang berhak mencari jalan untuk menghindarinya, tapi kalo ternyata masih ketemu juga, ya alhamdulillaah ‘alaa kulli haal…

Sedih karena gagal itu wajar, bertekad menjauhi kegagalan juga harus, karena kita ga boleh jadi orang bermental gagal…

Kegagalan itu bukan gerbang akhir sebuah perjalanan, tapi ia adalah ujian, kerikil kurang lebihnya. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengalahkannya kemudian berlari untuk membuka pintu gerbang akhir, selesai. Menurutku, ga pernah ada kegagalan abadi, yang ada hanya orang-orang yang menyerah sebelum berhasil, padahal mungkin sukses tinggal sejengkal lagi darinya, oh, sayang sekali.

Gagal, kata ini menurut opini aku adalah rasa tidak puas atas pencapaian yang kita raih. Bisa jadi karena ga nyempe target atau ga bergunanya usaha yang udah kita lakukan selama ini. Well, intinya rasa kecewa pada diri sendiri. Dan anehnya banyak kejadian orang yang mengatakan seseorang itu gagal, padahal dia ngerasa biasa aja tuh, karena emang segitulah target yang ia pasang. Atau kebalikannya, seseorang setres dan mengatakan dirinya gagal, padahal menurut orang lain dia udah bagus tuh pencapaiannya, oh, mungkin karena si orang lain itu ga bisa mencapai apapun.

Aku, sebagai seorang pelajar yang ga bisa dibilang berprestasi sering merasakan kegagalan. Dan apa sih yang harus kita lakukan? Apa gunanya berlarut dalam kesedihan atau bahkan jadi down abis-abisan? Apakah semuanya bisa bikin fakta berbalik? Ga, ga ada kisah hidup yang kaya Doraemon.

Sebenernya dengan kegagalan kita bisa membuktikan kepada Allah, diri kita sendiri, dan orang-orang di sekitar kita, seberapa kuat hati yang kita miliki, seberapa banyak cadangan ketegaran yang kita punyai, dan seberapa tekun kita untuk bangkit dan terus berjuang lagi.

Jangan menyerah, atau dengan kata lain, jangan mau digagalkan oleh kegagalan. Sudah culup ia memporak-porandakan kamu saat ini, dan jangan biarkan ia menghalangimu untuk bangkit.

Berjuang, teruslah berjuang dan berusaha, untuk dirimu tentunya, dan untuk orang-orang yang kamu cintai. Move on itu tidak mudah, tidak semudah ketika aku menekan keyboard  dan menuangkan apa yang memenuhi kepalaku, simak curcolanku di postingan yang akan datang yuks, insya Allah 🙂

Assalaamu’alaikum

Assalaamu’alaikum lagi… Maaf setelah sekian lama aku baru bisa kembali ngeramein blogku yang tersayang ini… Selalu gini, numpuk tulisan dulu baru diposting semua, ga lucu bangett… Tapi lebih baik lah daripada enggak sama sekali.

Bulan berganti bulan, banyak yang terjadi beriringan pergantian siang dan malam. Banyak yang datang dan pergi, semuanya seperti pergerakan roda saja, tak berhenti, selalu berotasi.

Kehadiran sesosok suami dalam hidupku, kehadiran saudara-saudara ipar, dan kini si kecil yang tengah tumbuh berkembang dalam janinku, adalah bentuk betapa Allah begitu detail mengatur segalanya, kemudian mengemasnya dengan cara yang begitu indah, sebagai kejutan-kejutan kecil tak terduga. Alhamdulillah…

Tapi diantanya begitu banyak yang datang meramaikan hati dan hidupku, ada juga sosok-sosok hebat yang pergi. Kepergian mereka membuatku bersedih, merenung, betapa umur tak ada yang tahu, beberapa orang meninggal begitu cepat, beberapa masih kuat hidup puluhan tahun lamanya walau dalam kesakitan…

Hari ini, salah satu Budheku berpulang ke rahmat Allah, tak sempat aku melihatnya untuk terakhir kali dikarenakan jarak dan kesempatan, namun kutitipkan doa untuknya, Allah ampuni dosanya, rahmati, luaskan kuburnya, dan berikan baginya tempat yang terbaik baginya di sisi_Mu…

Salam rindu dan doaku pula teruntuk manusia-manusia luar biasa berarti dalam hidupku:

Tentu yang pertama, ia yang tercinta, atas pengorbanannya bagiku, tanpanya aku takkan ada disini sebagai seorang Nimitta.

Budheku yang kerap kupanggil Ibu, terimakasih atas kasih sayangnya di saat aku haus dahaga akan kasih ibu,

Pakdheku atas kasih sayangnya yang malu-malu itu, atas kasih sayang yang kadang diselipkan dalam keketusan kata-katanya, aku merindukannya,

Kakak iparku, yang sedikit banyak telah mengajarkan hal-hal yang tak pernah kutahu, terimakasih atas sambutan hangatnya dalam keluarga yang baru bagiku…

Semoga Allah menyayangi dan merahmati kalian, dan Allah tempatkan kalian di tempat termulia di sisinya, kemudian mempertemukan kita kembali dalam sebaik keadaan.

Dan hari ini kita paham, sebanyak apapun saudara yang begitu kita kasihi, kawan yang begitu kita cintai, ketika tua nanti, kita harus siap kehilangan mereka satu persatu, atau bisa jadi di waktu-watu sekarang ini. Allah, tetapkan langkah kami dalam naungan ridha-Mu.

Dan suatu saat nantipun aku akan menjadi tua -bila Allah masih memberi umur panjang-, dan yang pasti, semua akan pergi, kembali ke hadapanNya, mempertanggung jawabkan apa yang telah ia lakukan di dunia. Semua akan pergi, jauh meninggalkan orang yang ia cintai, terpisah dimensi jarak dan waktu, jauh, tak terkejar lagi…

Mungkin suatu saat aku menuliskan kata “bersambung insya Allah”, namun ternyata aku tak dapat meneruskannya lagi. Mungkin suatu saat aku tidur dan tak terbangun lagi, betul-betul pergi, dan tak kembali… Allah aku memohon padaMu anugerah husnul khatimah, aamiin

Kepergian kita adalah suatu keniscayaan, takkan ada yang dapat menghindarinya. Maka apa yang dapat kita lakukan melainkan berusaha mempersiapkan segalanya demi menyambutnya?

Sungguh merugi orang yang begitu terlena mengejar dunia, padahal kematian mengintai di belakangnya. Sungguh merugi orang yang melupakan tujuan asli penciptaanya, padahal Dia telah menyiapkan segala kesempurnaan di bawah naungan syariatNya…

Allah… Hidayah-Mu, hidayah-Mu, sungguh tak ada yang lebih berharga bagiku daripada itu.

Allah, sungguh aku memohon kepadaMu, masukkan kami selalu dalam golongan penghuni surga-Mu, beserta orang-orang yang kami kasihi, beserta keluarga yang kami cintai, sungguh apakah artinya kebahagiaan kebersamaan di dunia ini bila Kau pecah belahkan kami di akhirat kelak -naudzubillah-

Satukan kami Ya Allah di bawah naungan kasih dan ridha-Mu, aamiin