Long Live Education, tak ada kata terlambat… Ganbatte!

Archive for Maret, 2014

Masa Kecil, Masa Penuh Makna

                Kadang kenangan masa kecil membuat kita tersenyum, malu dan tertawa saat mengingatnya, apalagi kesalahan-kesalahan polos yang dulu kita lakukan. Kenangan seperti itu bolehlah dikenang untuk kelak diceritakan ke anak-anak kita (*elus2 perut buncit), bukan sekedar untuk bahan tertawaan, tapi juga untuk bahan pembelajaran, jangan sampai kesalahan yang sama terulang.

                Kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu bersama adik iparku. Dimulai dengan perbincangan ringan mengenai bagaimana aku kelak akan mengajarkan anakku membaca Al-Qur’an sebelum mengajarinya menghafal. Mengingat keluhan beberapa teman mengenai sulitnya mengajarkan anak balita membaca dibandingkan menghafal.

                Adik iparku bercerita, bahwa ia lupa kapan mulai belajar membaca Al-Qur’an, yang ia ingat hanyalah keheranannya saat melihat teman-teman seumurannya baru mulai membaca alif ba’ ta’, sementara ia sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Berbeda lagi denganku, aku baru bisa membaca Al-Qur’an saat menginjak kelas lima, itupun masih terbata-bata, berbeda dengan adik-adikku yang sudah bisa membaca Al-Qur’an dalam usia lebih muda lagi dariku.

                Jelas perbedaannnya adalah pendidikan sejak dini. Bagaimana dahulu orangtuaku kurang memperhatikan aspek agama dalam tumbuh kembangku, sedangkan mereka sudah mulai menekankannya kepada adik-adik sejak mereka kecil. Tak masalah apa yang sudah berlalu, yang penting akhirnya merekapun berusaha ‘memperbaikiku’ meskipun saat itu aku sudah hampir menginjak usia remaja.

                Ada kisah konyol lain berkenaan ‘kepolosanku’ dalam masalah agama. Saat itu aku kelas enam SD, setiap sore aku mengikuti madrasah diniyyah -semacam TPA tapi lebih fokus kepada hafalan Al-Qur’an dan pendalaman ilmu agama- yang merupakan salah satu program ‘perbaikan’ yang dicanangkan orangtua bagiku.

Hari itu ustadzah memberi tugas kami untuk menghafalkan Ayat Kursi dan menyetorkannya besok. Dengan polosnya aku bertanya,

“Kenapa harus dihafal sih ustadzah? Bukannya Ayat Kursi itu Cuma kaligrafi yang biasa dipajang di tembok-tembok itu? Emang ada tah di Al-Qur’an?”

                Mau tak mau teman-teman tertawa mendengarnya, apalagi ustadzah. Padahal saat itu aku adalah pelajar madrasah terbaik yang selalu menjadi peringkat pertama tiap semesternya, tapi sayang sekali belum hafal Ayat Kursi dan bahkan tidak tau hakikat Ayat Kursi. Sungguh terlalu, sungguh memalukan J.

                Setelah lulus SD aku mendaftar di sebuah Pondok pesantren di Solo. Tinggal di penjara suci selama 6 tahun ditambah masa pengabdian satu tahun  jelas membuatku tak lagi sepolos dulu. Tak hanya berhasil menghafal Ayat Kursi, bahkan surat Al-Baqarah dan beberapa juz yang lainnya berhasil kuhafal. Tak sekedar alif ba’ ta’, bahkan kaedah-kaedah bahasa Arab sudah kupelajari.

                Sekarang setelah aku terdaftar dalam daftar mahasiswa Kampus Arab, aku makin merasakan bahwa ini semua adalah nikmat yang tak terkira. Bisa mempelajari Al-Quran, agama Islam, dan bahasa Arab adalah sebuah nikmat besar yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.

                Rasulullah salallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barangsiapa yang Allah inginkan baginya kebaikan, maka Allah akan menjadikannya orang yang paham agama”.

                Alhamdulillah, alhamdulillah ‘alaa hadzihin ni’am. Betapa banyak yang mendapatkan kesempatan belajar agama justru menyia-nyiakannya dan memilih berhenti. Di sisi lain betapa banyak yang ingin belajar namun waktu dan kesempatan tak mengizinkannya. Sedangkan aku disini, diberi kesempatan dan kemauan, maka tak ada yang patut dilakukan kecuali memperbanyak syukur dan memperbaiki niat.

                Dan kini aku bertekad akan menjadi ibu yang terbaik bagi anak-anakku kelak. Takkan kuizinkan seorangpun mendahuluiku mengjarkan Al-Fatihah kepada anakku, karena Al-Fatihah akan dibaca sepanjang hayatnya, minimal 17 kali sehari. Tidak juga dengan Ayat Kursi, dan bahkan tidak pula alif ba’ ta’. Aku dan suamiku harus menjadi sekolah pertama bagi mereka, yang mengajarkan dasar-dasar agama, akhlak, adab, bahkan bahasa Arab.

                Biarkan kami yang akan mendapat pahala terbanyak dari amal-amal yang kelak mereka lakukan karena kami yang mengajarkannya. Karena mereka adalah ladang bagi kami, kelak mereka yang akan menjadi sumber rahmat saat jasad kami terkubur tanah bertemankan kegelapan. Karena kelak insya Allah mereka juga akan menjadi da’i yang akan mengajarkan agama pada banyak orang.

                Rabbanaa hab lanaa minash shaalihiin… Aamiin.

                Gambar

Jakarta, 22 Maret 2014

Iklan
Gambar

Tenangkan Hatimu, Nak

#LatePost

Tenangkan hatimu, nak, jangan khawatirkan apapun, mama disini bersamamu…

00.0

Inilah yang mereka namakan dengan malam tahun baru

Waktu dimana langit dipenuhi bunga-bunga api, silau, indah memang..

Tapi daratan dipenuhi bau asap dan suara bising, ah, mengganggu sekali

Saat dimana orang-orang itu turun memenuhi jalan

Membakar uang di kantong mereka demi ikut memeriahkan sambil membawa corong-corong yang mengeluarkan suara klakson, mereka sebut ini gengsi dan keharusan

Mengapa mereka harus membuat malam ini bising dengan ledakan-ledakan itu? Mengapa tidak mereka buat tenang agar semua bertafakur bahwa dunia makin tua? Ini sudah tradisi, jawabnya

Malam ini mereka bersuka cita, membuat ribuan harapan, tapi esoknya mereka tak merubah apapun kecuali tidur sepanjang hari sambirbermalasan

Jangan takut nak, tenangkan hatimu

Andai bisa kututup telinga mungilmu tuk melindungimu dari suara dentuman ini maka akan kulakukan…

Namun kini tenanglah, tidurlah dengan nyenyak dalam balutan air ketuban, kuharap suara bising ini dapat sedikit teredam…

Ini bukan suara dentum bom dan ledakan senapan, nak…

Negrimu masih aman, kita masih akan bisa tidur nyenyak, alhamdulillah

Pagi masih tetap indah dan malam masih dapat berbintang

Tidak seperti anak-anak kecil Syiria yang harus kehilangan nyawa

Bahkan tumbuh dalam ketakutan dan kekalutan

Tidak seperti janin wanita-wanita yang harus mati sebelum mereka melihat dunia

Negrimu masih aman nak, masih subur, masih bisa menumbuhkan banyak harapan,

Awannya masih dapat meneteskan butir-butir kebaikan…

Kelak saat kau lahir dan dapat melihat dunia

Memijakkan kaki mungilmu di tanah air tempat kau terlahir,

Bersiaplah untuk mengemban amanah terbesar, amanah dakwah di jalan Allah

Ajarkan apa yang seharusnya mereka lakukan

Kemana mereka musti menginvestasikan uang mereka

Antara membumi hanguskannya di dunia yang memang fana ini,

atau menitipkannya ke surga untuk kelak dinikmati

Orang-orang semakin buta, nak

Dunia makin rusak mencerminkan akhlak para penghuninya

Tapi kami barharap banyak pada generasi mendatang

Generasi kalian wahai da’i masa depan..

Sekarang tidurlah, nak,

Nikmati duniamu yang tentram

Karena insya Allah kelak kau akan terlahir dan tumbuh jua di dunia yang hitam-putih ini

Tidurlah karena seluruh manusia kini terjaga…

Sebagian mereka bermaksiat berfoya-foya

Sebagian lagi menikmati malam berhias warna

Yang lain terganggu kebisingan sambil menutup telinga

Dan sekelompok lagi membuka buku untuk menghadapi ujian…

Tenangkan hatimu, nak,

Kini suara-suara itu sudah mereda,

Hanya menyisakan cabikan kertas di mana-mana

Jakarta, 1 Januari 2014

Sebar Sabar

Apakah Anda menjadikan sabar sebagai pilihan pertama? Atau malah yang terakhir?

Apa  sih sabar itu, bagaimana hakikatnya, kapan seseorang bisa dikatakan penyabar? Saya pribadi sering bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, karena emang kenyataanya saya ga ngerti banyak tentang devinisi si sabar ini.

Nah, karena penasaran, akhirnya saya buka Kamus Bahasa Indonesia #ciaahh, dan saya menemukan bahwa sabar adalah: Sikap menerima apa adanya, tak pemarah, tenang, tahan menderita.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata tentang hakikat sabar, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24) http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hakikat-sabar-1.html

Jadi, sabar dalam agama Islam ga sekedar menahan marah sambil ngelus-ngelus dada. Tapi lebih luas daripada itu, sabar mencakup tiga hal; sabar dalam menghadapi takdir Allah (terutama musibah), sabar dalam ketaatan, dan sabar dalam menjauhi larangan Allah.

Ngomong-ngomong tentang sabar dalam menghadapi musibah, saya ingin kembali bertanya, apakah Anda menjadikan sabar sebagai pilihan pertama atau terakhir dalam hidup Anda? Jawabannya simpan saja dulu dalam hati Anda. Pasalnya banyak orang yang berkata ‘’Saya sudah cukup sabar’’ tapi ia masih aja mengeluhkan masalahnya. Ada lagi yang bentuk sabarnya adalah meninggikan suara mengatakan “Sabaarrrr, sabaarrrr…”  sambil ngelus-ngelus dada gitu deeehh…

Dan nyatanya. Sedikit sekali orang yang bisa mengambil opsi pertama –menjadikan sabar sebagai pilihan pertama-, kenapa? Mungkin karena manusia memang diciptakan sebagai pribadi yang mudah mengeluh. Padahal Allah telah menjanjikan banyak kebaikan loh buat orang-orang yang bersabar.

Firman Allah, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).

Allah ta’ala juga berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).

Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).

Contoh gampangnya gini, hape kesayangan yang kita beli pake peluh usaha sendiri tiba-tiba ilang dicopet orang!! Apa yang Anda lakukan?

  1. Sedih, nangis mungkin (kalo cewek), ngedoain orang yang nyolong, setelah sehari dalam kegalauan, akhirnya sabar. “Sabaarrr, sabaarrrr” #sambil ngelus dada.
  2. Sedih (ini wajarlah), nangis (bisa jadi), tapi lebih memilih untuk ga mengeluarkan kata-kata buruk, bahkan bisa berpikir kalau seandainya hape itu ga dicopet mungkin bisa membahayakan dia, dan mengucapkan ‘‘alhamdulillaah ‘alaa kulli haal’’.

Nahloh, ga bisa dipungkiri hampir semua orang akan melakukan opsi pertama, menjadikan kesabaran sebagai pilihan terakhir, artinya, mau gimana lagi? Itu copet mau dikejer juga udah kejauhan, mau ngulang waktu lagi juga ga bisa, maka tidak ada pilihan kecuali satu; bersabar.

Bener ato bener??

Ga banyak yang bisa saya tuliskan mengenai sabar, tapi setidaknya simaklah baik-baik dua hadits berikut:

Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda: “Amat menakjubkan sekali keadaan orang mukmin itu, semua keadaannya itu adalah kebaikan baginya. Dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada melainkan hanya untuk orang mukmin saja, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesusahan, ia bersabar dan ini adalah merupakan kebaikan baginya.” (Riwayat Muslim)

Dari Anas r.a., “Nabi s.a.w. berjalan melalui seorang wanita yang sedang menangis di samping sebuah kubur. Beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!” Wanita itu berkata: “Menjauhlah dariku, kerana Anda tidak terkena musibah sebagaimana yang mengenai diriku dan Anda tidak mengetahui musibah apa itu.” Wanita tersebut diberitahu – oleh sahabat beliau s.a.w. – bahwa yang diajak bicara tadi adalah Nabi s.a.w. Ia lalu mendatangi pintu rumah Nabi s.a.w. tetapi di depan rumahnya tidak didapati penjaga-penjaga pintu. Wanita itu lalu berkata: “Saya memang tidak mengenai Anda – maka itu maafkan pembicaraanku tadi.” Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Kesabaran – yang sangat terpuji – itu hanyalah ketika musibah datang pertama kalinya.” (Muttafaq ‘alaih). Maksudnya adalah, sejak musibah datang pertama kali, bukan setelah berlalunya waktu.

Sekian celotehan saya tentang sabar, ga terlalu mendetail tapi semoga bermanfaat, dan semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam barisan hamba-hamba-Nya yang bersabar.

Semoga kita juga bisa menerapkan kata sabar dalam tiga keadaan diatas, aamiin…

 

 

 

 GambarGambar