Long Live Education, tak ada kata terlambat… Ganbatte!

Archive for September, 2014

Jangan katakan Jangan

Menjadi seorang Ibu adalah merupakan tantangan tersendiri bagi saya pribadi. Bagaimana tidak, benar salahnya kita dalam mendidik anak, bisa berpengaruh besar bagi wataknya saat dewasa nanti.

Sering saya mendengar pakar parenting melarang kita mengucapkan kata “jangan” kepada anak. Padahal dalam Al-Qur’an, Allah banyak menyebutkan kata “jangan”.

Sekian lama dalam kebingungan, alhamdulillah, saat kebetulan mendengar kajian ustad Abu Ihsan di Radio rodja, saya jadi mendapat pencerahan, cliiinggg…

Critanya, ada seorang bertanya kepada Ustadz via telepon, isi pertanyaannya kurang lebih begini: Banyak pakar parenting yang melarang kita mengatakan “jangan” pada anak, tapi gunakan kata “sebaiknya”. Padahal, dalam Al-Qur’an, jelas-jelas Allah menggunakan kalimat  ini di banyak ayat. Seperti  “Dan jangan dekati zina”. Kata “jangan” disini bermakna larangan mutlak yang tidak boleh dibantah, sedangkan kata “sebaiknya” masih bermakna boleh mengambil pilihan yang lain. Bagaimana tanggapan Ustadz tentang hal ini?

Beliau –hafidzahullah- menjawab kurang lebihnya seperti ini:

Pertama, kita lihat dulu siapa yang kita ajak bicara. Apakah anak kecil, orang yang jauh lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya, atau yang seusia dan sederajat dengan kita.

Yang kedua, dalam masalah apa kita gunakan kata “jangan”? apakah dalam hal yang berkaitan dengan suatu hukum, ataukah dalam mengajarkan adab.

Kata “jangan”  memang tidak cocok diucapkan kepada anak kecil. Karena mereka hanya akan mencerna kalimat setelah kata “jangan”. Contohnya, “Jangan diambil”, yang ia tangkap hanyalah kata “Ambil”. Maka, dalam hal mengajarkan adab, memang kita hendaknya menggunakan selain kata “jangan”.

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, saat menasehati sahabat kecil yang makan menggunakan tangan kiri, beliau tidak mengatakan kata “jangan”, tapi beliau langsung menegurnya dengan mengatakan, “Wahai anak, ucapkan bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan ambillah yang paling dekat darimu”.

Kedua, kata “jangan” juga tidak cocok diucapkan kepada orang yang lebih tinggi derajatnya atau lebih tua umurnya di atas kita, karena terkesan tidak sopan.

Adapun kepada yang seusia atau sederajat, maka insyaAllah tidak masalah untuk menggunakan kata jangan.

Yang perlu diingat adalah, kata “jangan” harus diucapkan apabila larangan tersebut berkaitan dengan hukum Allah. Karena larangan Allah bersifat mutlak dan tak bisa dibantah-bantah lagi.

Contohnya –ini tambahan dari saya- firman Allah tentang Lukman yang memberi anaknya wasiat; “Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, karena sungguh syirik adalah dosa yang besar”.

Wallaahu a’lam bish shawaab…

Jadi inget masa kecil dulu, setiap orang tua melarang dengan kata “jangan”, saya langsung bertanya “memangnya kenapa ga boleh?”. Dari situlah saya mengambil kesimpulan, setidaknya, kalau kita terpaksa menggunakan kata “jangan”, beri mereka alasan, kenapa hal itu dilarang. Supaya apa? Supaya mereka tahu, bahwa larangan kita mengandung kebaikan baginya. Agar ia tahu, bahwa yang terlarang adalah hal yang buruk.

Semoga Allah membantu kita semua dalam mendidik buah hati kita tercinta. Menjadikan mereka generasi terbaik ummat ini, yang selalu beramar ma’ruf nahi munkar, aamiin…

Jonggol, 29 September 2014

Iklan