Long Live Education, tak ada kata terlambat… Ganbatte!

Archive for the ‘Others’ Category

Jangan katakan Jangan

Menjadi seorang Ibu adalah merupakan tantangan tersendiri bagi saya pribadi. Bagaimana tidak, benar salahnya kita dalam mendidik anak, bisa berpengaruh besar bagi wataknya saat dewasa nanti.

Sering saya mendengar pakar parenting melarang kita mengucapkan kata “jangan” kepada anak. Padahal dalam Al-Qur’an, Allah banyak menyebutkan kata “jangan”.

Sekian lama dalam kebingungan, alhamdulillah, saat kebetulan mendengar kajian ustad Abu Ihsan di Radio rodja, saya jadi mendapat pencerahan, cliiinggg…

Critanya, ada seorang bertanya kepada Ustadz via telepon, isi pertanyaannya kurang lebih begini: Banyak pakar parenting yang melarang kita mengatakan “jangan” pada anak, tapi gunakan kata “sebaiknya”. Padahal, dalam Al-Qur’an, jelas-jelas Allah menggunakan kalimat  ini di banyak ayat. Seperti  “Dan jangan dekati zina”. Kata “jangan” disini bermakna larangan mutlak yang tidak boleh dibantah, sedangkan kata “sebaiknya” masih bermakna boleh mengambil pilihan yang lain. Bagaimana tanggapan Ustadz tentang hal ini?

Beliau –hafidzahullah- menjawab kurang lebihnya seperti ini:

Pertama, kita lihat dulu siapa yang kita ajak bicara. Apakah anak kecil, orang yang jauh lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya, atau yang seusia dan sederajat dengan kita.

Yang kedua, dalam masalah apa kita gunakan kata “jangan”? apakah dalam hal yang berkaitan dengan suatu hukum, ataukah dalam mengajarkan adab.

Kata “jangan”  memang tidak cocok diucapkan kepada anak kecil. Karena mereka hanya akan mencerna kalimat setelah kata “jangan”. Contohnya, “Jangan diambil”, yang ia tangkap hanyalah kata “Ambil”. Maka, dalam hal mengajarkan adab, memang kita hendaknya menggunakan selain kata “jangan”.

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, saat menasehati sahabat kecil yang makan menggunakan tangan kiri, beliau tidak mengatakan kata “jangan”, tapi beliau langsung menegurnya dengan mengatakan, “Wahai anak, ucapkan bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan ambillah yang paling dekat darimu”.

Kedua, kata “jangan” juga tidak cocok diucapkan kepada orang yang lebih tinggi derajatnya atau lebih tua umurnya di atas kita, karena terkesan tidak sopan.

Adapun kepada yang seusia atau sederajat, maka insyaAllah tidak masalah untuk menggunakan kata jangan.

Yang perlu diingat adalah, kata “jangan” harus diucapkan apabila larangan tersebut berkaitan dengan hukum Allah. Karena larangan Allah bersifat mutlak dan tak bisa dibantah-bantah lagi.

Contohnya –ini tambahan dari saya- firman Allah tentang Lukman yang memberi anaknya wasiat; “Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, karena sungguh syirik adalah dosa yang besar”.

Wallaahu a’lam bish shawaab…

Jadi inget masa kecil dulu, setiap orang tua melarang dengan kata “jangan”, saya langsung bertanya “memangnya kenapa ga boleh?”. Dari situlah saya mengambil kesimpulan, setidaknya, kalau kita terpaksa menggunakan kata “jangan”, beri mereka alasan, kenapa hal itu dilarang. Supaya apa? Supaya mereka tahu, bahwa larangan kita mengandung kebaikan baginya. Agar ia tahu, bahwa yang terlarang adalah hal yang buruk.

Semoga Allah membantu kita semua dalam mendidik buah hati kita tercinta. Menjadikan mereka generasi terbaik ummat ini, yang selalu beramar ma’ruf nahi munkar, aamiin…

Jonggol, 29 September 2014

Iklan

Durhakakah Aku Bila…

Kisah ini bukan dongeng, betul-betul terjadi di atas bumi. Tokoh ceritanya adalah orang yang sangat aku kenal. Mau ikut menyimak cerita? Dari sinilah kisah ini bermula.

Suatu hari sekitar tahun 90an,  lahirlah seorang bayi perempuan yang imut dan lucu. Bayangkan betapa bahagia semua orang menyambut kedatangannya yang ditunggu-tunggu. Bisa bayangkan apa yang yang dirasakan semua orang tatkala itu? Seharusnya mereka bersuka cita.

Namun sayang rasa suka harus bercampur duka. Bukan karena si bayi lahir dalam keadaan tak bernyawa atau tak sempurna, namun kedatangannya di dunia juga menghantarkan nyawa lain meninggalkannya, nyawa ibunya. Seorang anak yang lahir dalam keadaan piatu. Beruntung semua orang tetap menyayanginya, tak berkurang sedikitpun.

Si tokoh kecil kita ini tumbuh dengan gelimang kasih sayang, kerabat dekat dan sanak saudara begitu menyayanginya. Apa yang ia minta selalu dituruti, beruntungnya si kecil kita ini bukan tipe orang berhati keras. Ia selalu meminta dengan cara manja anak-anak yang lugu.

Diumurnya yang belum juga menginjak tiga tahun, Ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita. Wanita yang tegas dan berwatak koleris-melankolis. Tak ayal gabungan dua kepribadian kuat ini mendominasi rumah. Sejak saat itu, ia tak lagi dapat bebas menyebut atau mengenang tentang ibu kandungnya. Demi menjaga keharmonisan dan keutuhan keluarga baru mereka.

Yang harus dilakukannya di rumah adalah menganggap sang Ibu tiri layaknya Ibu kandung baginya. Tak ada kata kenang atas Ibu kandungnya.

Tak lama akhirnya ia dibawa ke rumah bibinya untuk dititipkan disana beberapa tahun. Bibinya ini adalah kakak dari Ibu kandungnya. Sangat menyayanginya dan selalu menjadikannya nomor satu dalam hidup. Disana ia mengenal banyak hal tentang sang Ibu. Putri kecil kita ini selalu menangis setiap mendengar tentang Ibunya, entah mengapa, tapi selalu saja ia rindu. Tampaknya tubuh dan pikirannya masih terlalu muda untuk menanggung ujian ini, terlalu muda untuk ditekan terus menerus oleh situasi.

Suatu hari ia bermimpi, bermimpi melihat sosok wanita ada di sebuah ruangan dengan penerangan lampu-lampu emas. Wanita itu hanya diam, tak mengatakan apapun padanya. Tapi entah bagaimana ia tahu itu adalah Ibunya.

Ketika terjaga, anak kecil ini segera berlari menuju bibinya, menceritakan mimpi indah yang dilihatnya. Ia meminta diyakinkan, “Tunjukan foto Ibu padaku,” katanya. Segera sang bibi membukakan album foto besar, “ini Ibumu, nak.” jelasnya. Dan sang putripun menangis. Foto itu, dengan ekspresi yang sama, adalah wanita yang ia lihat dalam mimpinya. Bibinya terharu saat mendengar cerita polos tokoh kita ini.

Singkat cerita, ia tumbuh dewasa, dan sudah mulai melupakan wajah sang Ibu. Gadis kita kini tak mau lagi melihat foto Ibunya, beban hidup yang dirasakannya akan membuatnya menangis bila memandang wajah Ibu. Wajah Ibunya hanya membuatnya makin sedih, lumpuh, dan merasa begitu tak berdaya. Maka cukup baginya untuk mengenang nama Ibu dalam hati dan mengirimkan doa tulus baginya yang tercinta.

Gadis kita ini selalu menjadikan orangtuanya,  sebagai motivator baginya. Apa yang ia lakukan selalu dengan niatan untuk membuat orangtuanya tersenyum. Walaupun Ibu tak melihatnya, tapi ia percaya bahwa pahala kebaikan dan doa yang ia ukir selalu sampai kepadanya. Ia hanya ingin selalu mengirim bagi mamanya hal-hal yang baik. Agar Ibunya disana tahu, bahwa disini, di dunia ini, masih ada anak gadisnya yang selalu ada untuk mendoakannya dan mengharapkan tempat terbaik baginya.

Ia menuliskan nama Ibunya dalam lembaran buku, dan mengukirnya dalam hati. Agar ia bisa menjadi anak shalihah, mendoakan Ibunya, dan kelak bertemu di surga.

Waktu berjalan begitu cepat, akhirnya ia dipertemukan dengan seorang suami lembut yang selama ini diimpikannya. Dan tentu ia ingin memperlihatkan foto mendiang Ibu kepada sang suami. Namun betapa terkejut ia saat  membuka foto Ibu, dan menyadari bahwa ia tak dapat mengenali sosok ibunya.

“Ibu, durhakakah aku? Kupikir selama ini cukup bagiku mengenang nama tanpa wajahmu, bagaimana bisa seorang anak tak mengenali wajah ibunya? bagaimana bisa aku tak mengenali sosokmu dalam kumpulan orang dalam foto ini? Maafkan aku, Ibu, aku tetap menyayangimu..”

Ibu… Mulai saat ini akan kuingat paras cantikmu dalam hati dan pikiranku, kulukis dengan tinta emas berbingkai permata…

Hingga ku tak lagi ragu, bahwa disana, nun jauh disana, ada seorang ratu mulia yang menanti doa dan ucapan terimakasih dari putri kecilnya, doa yang dapat membuatnya mengerti bahwa rasa sakit dan pengorbanan nyawa ternyata tak sia-sia…

Aku sayang ibu, aku rindu ibu, dan akan selalu seperti ini, walaupun kita belum pernah sempat bertatap muka…

Tapi kutahu, dalam darahku mengalir darahmu, dalam hatiku terukir namamu, dan tak akan ada orang yang pernah dapat merubahnya, takkan ada, sekeras apapun mereka berusaha. Karna rasa sayang ini adalah pemberian-Nya, adalah sebuah naluri yang takkan menyelisihi hati nurani…

Rabbi ighfir lahaa, wa r hamhaa, wa ‘aafihaa, wa ‘fu ‘anhaa, wa wassi’ mudkholahaa, wa akrim nuzulahaa,,, :’)

Ceritanya terlalu ringkas ya? Hehe, soalnya kalo diceritain detail sang tokoh nanti bisa penuh nih blogku sama kisah hidup dia. Tapi semoga kisah yang agak kaya dongeng ini bisa diambil manfaatnya ya.. 😀

Dan bersyukurlah bagi kita yang masih memiliki orangtua, banyak-banyaklah berbakti, karena sungguh, kenikmatan hanya bisa kita sadari setelah ia hilang. Jangan sampai suatu saat nanti kamu menyesali perbuatan jelekmu kepada orang tua. Dan bagi yang orangtuanya sudah mendahului berpulang, masih ada cara untuk berbakti, mari kita doakan meraka dengan sebaik-baik doa. Karena doa kalian akan sampai kepada meraka. :,)

Kita doakan ya kawan, semoga tokoh dalam cerita ini dapat dipertemukan kelak dengan ibunya dalam sebaik-baik keadaan. Aamiin…

 

unduhan

Gambar

Ijinkan Aku tuk

Postingan aku sebelumnya selalu berkaitan dengan motivasi dan opini-opini aku mengenai hal-hal di sekitarku. Tapi tak dapat dipungkiri yah, ternyata seorang aku punya perasaan juga terhadap cinta, dan banyak juga menuliskan tentang hal yang satu ini. Karena ingin jadi penulis profesional sejak dulu #cieh elaah, makanya sekarang aku beraniin deh mempublikasikan tulisan-tulisan aku tentang cinta. Dan ternyata disinilah begitu kentara sisi melankolisku #cihuii. Yak.. Selamat menikmati, selamat tertawa, selamat menangis (ngapain coba..?). Cekidott…

Ijinkan akutuk memperinci semua perasaan ini.
Ijinkan aku tuk mengatakan “Aku ingin memilikimu, aku takut kehilanganmu.”
Ijinkan aku tuk meminta maaf, bahwa kau bukan orang pertama yang memasuki hatiku, yang membuat hatiku berbinar aneh… Tapi kamu adalah orang pertama yang membuatku  merasa seperti ini, membuatku merasa begitu tenang dan aman… Kau adalah orang pertama yang ku harap mau menjadikanku yang terakhir dalam hatimu, yang mau menerima aku apa adanya… Aku yang penuh kekurangan ini…

Aku bukan siapa-siapa untukmu, dan kamupun bukan siapa-siapa untukku, setidaknya hingga detik ini, setidaknya hingga saat itu tiba…

Kita, walaupun tak saling mengenal, walaupun jauh di mata jauh di hati, tapi entah mengapa kali ini hatiku tak bisa lagi membohongi, aku selalu berharap kali ini  Allah menganugerahkan perasaan ini untuk orang yang tepat, untuk orang yang memang dilahirkan untukku, dilahirkan untuk menemaniku mengarungi kehidupan yang baru, kehidupan penuh misteri tapi penuh misi Illahi…

Orang yang memang dilahirkan  untukku, untuk mendampingi kehidupan dunia dan akhiratku kelak…

Aku tahu rasa ini tidak seharusnya tumbuh sekarang, aku tahu akhirnya fitnah yang kita takutkan pun menimpaku sekonyong-konyong…

Tapi berjanjilah, kau akan datang untukku, datang untuk benar-benar manjemputku tuk hidup bersamamu…

Berjanjilah kau benar akan datang dan membebaskanku dari kekang yang membelenggu jiwaku…

Berjanjilah kau takkan membuatku sakit sebagaimana orang-orang yang dahulu, berjanjilah untuk menjadi yang pertama dan yang terakhir dalam hidupku, dalam hidup kita kelak…

Berjanjilah kau akan menjadi pendampingku dan mencintaiku karena-Nya, membimbingku kedalam  surga-Nya…

Janji yaaa…15219_542183722489485_1361599078_n

Jakarta, 19042013

Kisah di balik catatan ini sangatlah ‘panjang dan melelahkan’, kata seorang kawan yang kuperunyukkan puisi ini khusus baginya. Hehe

Jadi ini adalah kisah seorang wanita muslimah lulusan pesantren yang berusaha menjadi shalihah, sedang ingin menjaga hatinya, agar tidak dulu jatuh cinta, bahkan pada calon suaminya sendiri. Keduanya menanti hari yang indah itu segara tiba, hanya karena keduanya takut merasakan perasaan cinta yang belum seharusnya dirasakan.

Menunggu waktu halal selama setengah tahun, sementara hatinya sudah ‘separuh terpaut’ pada seseorang, tentu berbeda rasanya dengan para jomblowers yang sama sekali belum mengenal seorang priapun dalam hidupnya. Apalagi si ikhwan yang satu ini dikenalnya melalui proses taaruf. Yang semua kelebihan dan kekurangannya gamblang sudah di depan mata.

Yah, namanya juga hati. Setan tak akan diam membujuk hati seseorang. Nah, akhirnya saat tumbuh rasa-rasa itu, ia menuliskan isi hatinya. Ia ketik dengan rapi di file2 laptopnya, hingga tak ada yang dapat membacanya kecuali ia. Hatinya sedih mengapa harus goyah di hadapan fitnah yang satu ini.

Tapi akhirnya ia berusaha kembali menata hatinya, jangan lagi ada setitik cinta sebelum saatnya tiba. Bukankah memang seorang wanita seyogyanya menjaga kehormatannya, menjaga hatinya dari hal-hal yang menurunkan izzah dan kemuliaannya di hadapan semesta, dan Sang Pencipta?

Happy ending ga tuhh?? #bukan novel nihh

Seharusnya Saya Belajar

Seharusnya saya bisa (dan HARUS bisa) mengambil, mencuri, ataupun mencopet pelajaran dari semua kejadian ini…

Walaupun sayang beribu sayang, saya tidak mendapat hikmah yang ‘positif’. Bukan motivasi ‘saya harus bisa seperti ini’, ‘saya harus mencontoh dia’, tapi kebalikannya… ‘saya TIDAK boleh seperti ini’, ‘saya TIDAK akan mencontoh dia’…

See…? Kalau kita bisa mencurahkan perasaan kita kepada ‘para seniman’, kita akan mendapati bahwa mereka bisa membuat kita merubah segenggam pasir menjadi emas… Sim salabim jadi apa prok prok prok…

Usiaku memang masih tergolong muda… #tapi udah ga ababil dan 4l4y lg… 😛
Walaupun bagitu, saya belum banyak makan asam garam, karena aku emang ga suka asam sama garem doang, pasti rasanya gajebo -_-… Dan saya yakin (dalam usia muda ini) saya udah sangat banyak makan coklat, eskrim, permen, dll #ngaco…

Yah intinya… Seharusnya saya belajar, Allah menyembunyikan hikmah dan kasihNya dengan begiti rapi, Dia letakkan di antara musibah dan kesenangan hambaNya… Jadilah hamba yang cerdas, jangan sekedar bahagia tanpa menemukan ‘bonus’ dariNya. Dan jangan pernah rela mendapat ujian lalu terluput lagi dari ‘hiburan’ pemberianNya…

#tumben omongan gue bener 😀
#bahasa karuan-tidak karuan

#oleh yang sedang ‘nyengirrr’ bahagia 20062013