Long Live Education, tak ada kata terlambat… Ganbatte!

Posts tagged ‘Gagal. Bangkit dari kegagalan’

Move On

Ini adalah sambungan dari artikel corat coret mengenai kegagalan yang aku tulis sebelumnya. Tapi sebelumnya jangan katain aku plin-plan yaaa, kan memang berbuat itu tak semudah bicara, hahaha… Makanya aku pisahin dengan artikel yang lalu, biar yang baca ga terlalu bingung dibuatnya. 

Ya, ininih sekelumit curcolanku mengenai kegagalan. Umurku di kampus udah hampir 3 tahun, selama 5 semester yang lalu aku memang jarang mencicipi kegagalan. Alhamdulillah aku selalu dikaruniai kemudahan dalam memahami matkul yang ada, dapat nilai yang tergolong bagus lah, rajin belajar walaupun ga terlalu sepaneng. Tapi ini yang bener-bener aku syukuri, betapa rasa ingin rajin mengulang pelajaran adalah hidayah Allah ya, ga semua orang punya kemauan untuk mau melek di kelas trus begadang di rumah, alhamdulillah…

Seandainya aku gagal UTS satu dua matkulpun ga pernah aku bikin pusing, masih ada pelajaran lain yang bisa bikin aku tetep unggul, ga usah mikir ini itu. Lihat  betapa dulu aku begitu legowo menghadapi kegagalan kecil. Mungkin karena sejak kecil aku juga bukan tipe pelajar yang terlalu WOW gitu. Biasa aja, rata-rata.

Nah, semester ini nih, gatau kenapa, rasanya bawaannya futur mulu. Di lain sisi aku bersyukur telah dikaruniai suami yang baik dan janin yang mulai berkembang di perutku. Tapi namanya calon ibu muda yang masih childish ini, betapa mabok hamilnya dipake alesan buat banyak tidur n ngantuk di kelas, plus jadi suka leyeh-leyeh di rumah. Tentunya ini bukan salah si dedek bayiku yang manis ini, tapi memang salah ibunya yang ga mau agak lebih memaksakan diri untuk tekun, hehe. Buktinya banyak juga kawan-kawan yang hamil n tetep bisa aktif belajar kayak biasanya. Jempol deh buat mereka..

Dan walhasil, dari UTS paling awal, nahwu, aku gagal. Selanjutnya, tauhid, aku gagal, bukan gagal total kaya nahwu, tapi soal yang semudah itu aku gak bisa mencapai nilai maksimal, miris, cuma gara-gara salah memahami soal. Lagi, lagi, dan lagi. Puncaknya adalah ujian Tsaqafah, hanya diminta menyebutkan devenisi aja ga bisa, padahal materi tergolong sedikit dan mudah. Duhhhh, rasanya ga ada lagi nilai sempurna yang akan menghiasi transkip nilaiku semester ini. Sedih, mau ga mau harus sedih. Walopun aku masih bisa cengengesan di depan teman-teman dan menganggap semua seolah biasa aja, namun aku akui, kali ini aku gentar.

Dan sebentar lagi test penerimaan fakultas Syari’ah di kampus. Bingung aku dibuatnya. Apa yang musti aku persiapkan? Sedangkan sekarang aku sudah begitu down memikirkan nilai-nilai UTSku yang ancur-ancuran ini.

Dan Allah kembali mengaruniakan kasih-Nya untukku, Hari Kamis lalu, hasil UTS salah satu matkul dibagikan, dan, sempurna… S E M P U R N A, nilaiku sempurna!!  Tertawa kecil aku melihatnya. Dulu nilai-nilai ini begitu sering kunikmati dan mungkin jarang kusyukuri, kini saatnya aku banyak bersyukur, alhamdulillah… 

Dan teman-teman berdecak kagum, mengingat hanya tiga dari 56 orang yang berhasil mendapat  nilai sempurna. Mau tak mau aku tersenyum, alhamdulillaah…

Dan Kemarin, Sabtu,  23 November 2013 akhirnya aku dapat kembali mengerjakan soal ujian penerimaan fakultas Syari’ah dengan lebih tenang  dan percaya diri. Aku memang tak bisa menjawab semua soal, dan pasti nilaiku jauh dari kata sempurna, namun aku tak berhenti meyakinkan diriku, aku bisa, dan aku akan diterima insyaAllah. Tinggal menunggu pengumuman dan mempersiapkan diri untuk interview. Alhamdulillaah…

Berjuang mempertahankan prestasi, bagiku bukanlah sebuah aib. Bukankah kita boleh bahagia ketika berhasil dan sedih ketika gagal? Bukankan memang fithrah manusia diciptakan dengan watak seperti itu? Dan bagiku, keberhasilan dan prestasi bukan hanya kebahagiaan bagi diriku sendiri, namun juga bagi orang tuaku yang selalu mengharapkan nilai terbaik yang bisa aku  persembahkan, juga buat saudari-saudariku yang selalu mendukungku dari belakang, dan kini ditambah satu lagi orang yang sangat kucintai, suamiku tersayang. Memberikan mereka rasa bangga adalah sebuah kesuksesan tersendiri bagiku. Bukankah membahagiakan orang lain juga berpahala? 🙂

Inilah kisahku, betapa terkadang kegagalan yang justru membuat kita semakin gagal, gagal, dan gagal lagi. Kita butuh mencuri moment untuk dapat kembali bangkit. Kesuksesan kecil bisa membantu kita. Kita hanya butuh tiga hal untuk menghadapi hidup; Keyakinan, Usaha, dan Doa. Tiga kekuatan yang tak ada bandingnya asalkan kita bisa selalu menggabungkan mereka di setiap jalan yang kita tempuh. Wallaahu a’lam.. 🙂

Ganbatte..!!! Hidup itu indah…Gambar

Iklan