Long Live Education, tak ada kata terlambat… Ganbatte!

Posts tagged ‘Kampus’

Mata Air di Padang Sahara

Sebelumnya, ini adalah tulisan yang sudah saya kirimkan untuk berpartisipasi dalam lomba karya tulis kampus (dan tidak termasuk diantara tiga tulisan terbaik). Bukan tulisan yang bagus memang, tidak juga berhak dibanggakan atau dipuji. Hanya tulisan seorang pemula, yang sedang belajar menulis. Setidaknya ini adalah tulisan pertama saya yang berani saya tampilkan di depan umum. Ini -sedikit banyak- adalah gambaran kebangkitan saya kembali untuk kembali menulis, mengungkapkan apa yang ada di hati. Saya sangat mangagumi sosok Andrea Hirata, termasuk cara penulisan beliau. Saya memang sengaja berusaha mengikuti cara penulisan beliau. Saya memang ingin menjadi seperti beliau. Saya memang ingin belajar menyampaikan sesuai cara penyampaian beliau. Apakah saya salah? Semoga tidak… Hehehe

 

Tercenung aku memandangi buku-buku muqarrar mustawa robi’, sebegitu tebalkah? Yang kupikir saat itu bukan materi yang berat atau berapa banyak pelajaran yang harus dihafalkan, tapi… “Tiap hari harus bawa buku segede gini? Tekorr ehh…”

 

Hari ini aku meninggalkan pesantren dengan terburu-buru, ijin mendadak dari orangtua dan tazkiyah dari mudir pesantren yang –entah sengaja atau tidak- ditujukan kepada mudir LIPIA membuatku harus menyelesaikan berkas-berkas pendaftaran sesegera mungkin. Ya, aku memang tidak pernah berharap banyak untuk masuk ke kampus yang sudah aku kenal lebih dari enam tahun yang lalu. Keinginanku untuk belajar disanapun timbul tenggelam. Universitas yang sudah aku incar terpaksa aku lupakan dan kubuang jauh-jauh dari fikiranku.

_0Oo_

     Malam ini aku terduduk di bangku kereta menuju Jakarta, rencananya aku akan mampir ke rumah Om di Bekasi dan istirahat disana beberapa jam.

_oOo_

     Jam06.00 aku berangkat, tidak membutuhkan waktu lama hingga akhirnya aku sampai didepan kampus yang dulu sempat aku idam-idamkan. Pemandangan yang aku lihat sangat menabjubkan, ramai halaman depan dengan mobil-mobil dan calon mahasiswa. Dan akhirnya dengan bertanya kesana kemari aku menemukan tempat pendaftaran akhwat,“Terpencil banget sih tempatnya..”, pikirku saat itu.

Aku berjalan pelan menuju tempat yang ditunjukkan, dan kebetulan aku berpapasandengan seorang teman yang juga mendaftar saat itu. Setelah ngobrol sebentar diabilang,

“Nomer pendaftaran i’dad udah abis, katanyabesok mendingan dateng jam lima pagi, daripada kehabisan lagi…”

“Wow,bener-bener gak main-main nih, besok kalo gak dateng jam lima bisa-bisamubadzir nih biaya jauh-jauh kemari…”, batinku. Aku langsung kembali ke mobildan minta kembali ke rumah Om, gak lupa menyampaikan bahwa besok harus sampai sebelum jam lima pagi.

Hari itu kuhabiskan di kamar, sendirian menyelesaikan koreksian jawaban imtihan santri-santri di pesantren (karena saat itu statusku masih dalam masa pengabdian) kemudian merekap semua nilai. Tekadku adalah menyelesaikan semuanya hari itu juga.

_oOo_

      Keesokan paginya aku benar-benar merealisasikan rencanaku; sampai kampus sebelum jam lima pagi. Masya Allah aku melihat antrean panjang calon thullaab. Dengan penuh semangat aku berjalan ke tempat pendaftaran thalibaat, dan kudapati… tempatnya masih gelap gulita.  Alhamdulillah, insya Allah kemungkinan kehabisan nomor pendaftaran hanya 0,1% . Dan benar saja, hari itu aku orang pertama yang mengambil nomer pendaftaran. Ah, seandainya aku ingat tanggal berapa hari ajaib itu…

Pelajaran moral nomor satu: Jangan pernah anggap remeh tekad orang-orang yang tertinggal dan patah hati, karena meraka bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka lewatkan…

_oOo_

Test Masuk

Hari ini aku terdampar di sebuah ruang kelas, dingin tak terkira, mungkin efek udik plus grogi membuat AC semakin terasa menusuk. Teman-teman yang aku kenal duduk jauh dariku, susah mencari kesempatan mengobrol dengan mereka pada saat-saat seperti ini. Tak lama kemudian seorang ustadzah masuk, merinding aku melihatnya,,,

Yang tak dapat kulupakan pada hari itu adalah 20 soal yang paling mudah terbang begitu saja, kami tak tahu apakah jawaban kami benar atau salah, fahmulmasmu’. Orang arab itu membacakan semua huruf dan kalimat acak yang ada d isoal, ya, semua, tanpa terkecuali. Karena bingung harus menjawab apa, aku melingkari jawaban sesuka hatiku, bahkan ada beberapa soal yang aku lingkari dua tiga jawaban sekaligus.

Keluar dari kelas kami saling berbincang, ternyata benar, semua isi kelas kebingungan,yaa Rabb, bisa apa kami? Kami hanya segelintir calon thaalibaat yang kebingungan, tak tahu harus berbuat apa, tak tahu harus mengeluh ke siapa, Allahummatawakkalna ‘alaika…

Rasa pesimis memenuhi jiwaku, apakah untukmasuk i’dad LIPIA aja aku gak mampu? Apakah soal semudah itu harus membuat belajar dan persiapanku sia-sia? Apakah (lagi-lagi) aku harus mengecewakan orangtua?

Aku menunggu sepekan lamanya di kost kakak kelasku, dan pengumuman tak kunjung keluar  juga, akhirnya aku putuskan untuk pulang saja, daripada merepotkan orang lain, aku sudah menyerah sebelum bertanding, hilang harapan.

“Kalo ternyata entar ada test lisan, aku pasrah, lepas aja LIPIA nya”, batinku.

Dan keesokan harinya, di siang bolong, ada sebuah SMS masuk, oh, dari teman di Jakarta ternyata,

“Nama anti gak ada di gelombang satu, doa aja semoga di gelombang dua ada.”

Aku menunggu, harapan sudah kuminimalisir, setidaknya kalau gak keterima ga sedih-sedih amat, pikirku. Dan tak lama kemudian sampai SMS kedua, menyatakan bahwa aku diterima, Alhamdulillah… Tak henti kuucap syukur, terimakasih ya Allah…

Pelajaran moral nomor dua: Ternyata besar kecilnya harapan mempengaruhi kebahagiaan. Semakin kurang rasa berharap kita, semakin kecil rasa bahagia yang kita dapat (itu menurutku sih, hehe).

_oOo_

      Akhirnya Aku di Kampus Biru

12  Februari  2011 akhirnya aku resmi menjadi thalibaah di LIPIA, Alhamdulillah, seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata.. Rasa udikku tiap bertemu orang Arab pun perlahan mulai sembuh, hehehe… Walaupun awalnya tanganku selalu pucat membiru setiap ustadzah Su’udiyyah  masuk kelas (Ini nyata, gak pake lebay loh).

Walaupun umurku di Kampus Biru belum genap dua tahun setengah, namun semua yang kutuliskan tak akan mewakili semua yang aku rasakan.

Hari-hari pertamaku di Kampus Biru sungguh menyenangkan, buku muqarrar yang tergolong tipis, ringan dibawa, ringan juga dikepala…

Suatu hari,  kami menjalani ujian pelajaran maqru’, soalnya sederhana saja, membuat kalimatdari kata ذاب (meleleh). Kebetulan,walaupun kami sudah berusaha menghafalkannya, namun masih saja banyak yang lupa. Ketika saling mencocokkan jawaban, ternyata jawaban teman-teman mengundang tawa,  diantaranya kalimat ngawur “ذاب عليُّ ذوبا “.

Pelajaranmoral nomor tiga: Lain kali, ketika tak tahu arti sebuah kata, buatlah kalimat yang terdiri dari tiga unsur saja: Fi’il,  Isim fa’il dan isim masdar.

_oOo_

     MustawaTsani

Aku akhirnya berhasil ‘berteman’ dengan  nahwu, setelah sekian kurang lebih tujuh tahun lamanya aku menjadikannya musuh bebuyutan (sebenarnya apa dosa nahwu hingga harus kumusuhi?).

Masa ini juga yang kami sebut sebagai masa perkembangan pesat, kami benar-benar digembleng habis-habisan sejak awal semester. Tapi kami benar-benar merasa mudah ketika ujian nihaiy datang, gak ada lagi begadang, gak ada lagi gugup, gak ada lagi ‘The Power of Kepepet’.

Pelajaran moral nomor empat: Sadarilah bahwa kita belajar bukan untuk ujian, ujian hanya wasilah untuk membuat ilmu kita lebih tertanam dalam. Jangan pernah jadikan ujian sebagai tujuan, karena ilmumu hanya akan berbekas selama ujian berlangsung, diatas lembaran kertas yang akhirnya kau kembalikan kepada sang dosen. Nasalullaha t taufiiq…

_oOo_

     MustawaTsalits

Hmmm, kami bertemu dengan seorang ustadzah yang mengagumkan, sikapnya menyejukkan,sesuai dengan nama yang disematkan untuknya. Belajar tauhid bersama beliau berbeda rasanya, betapa aku menyadari pentingnya  ilmu dan cara penyampaian yang baik dalam berdakwah, betapa aku menyadari bahwa aqidah yang kokoh akan menjadikan umat Islam kokoh pula. Masa belajar kami bersamanya memang tak lama, namun selalu ada rasa rindu terasa di sini, di hati terdalam kami, teriring doa untuknya, semoga beliau segera sembuh dari sakitnya, dan kembali mengejutkan kami dengan ilmu-ilmu yang beliau punya, dengan cara penyampaian  yang berwarna, indah sangat, seindah pelangi.

Pelajaran moral nomor lima: Kalau ingin tahu dimana posisimu di hati murid-muridmu, kunjungilah mereka setelah lama berpisah, dan lihat berapa banyak yang menyambutmu, dan berapa banyak yang mengharapkan kembalinya dirimu ditengah-tengah mereka.

_oOo_

      Mustawa Rabi’

Di hari pembagian buku muqarrar, tercenung aku memandangi buku-buku yang tertumpuk rapi, sebegitu tebalkah? Yang kupikir saat itu bukan materi yang berat atau berapa banyak pelajaran yang harus dihafalkan, tapi… “Tiap hari harus bawa buku segede gini? Tekorr ehh…”

_oOo_

     Nihaiy Oh Nihaiy…

Hal-hal ajiib yang tak pernah bisa kulupakan setiap ujian nihaiy  adalah teriakan-teriakan –yang akhirnya kunamai sebagai genderang perang-; “Yaa thaalibaaaaaaatttt……”, seketika (bayangkan semuanya dalam slow motion, kawan) jantung serasa berhenti, konsentrasi buyar, teriakan itu seperti mengandung unsur magic, tak ada yang dapat kulakukaan melainkan mengikuti teriakan-teriakan itu, bangkit perlahan dan berdesak-desakan masuk ruang ujian.  Aku menoleh ke belakang, yassalaaam….sebagian thaalibaat masih saja duduk manis, seolah tak mendengar apapun.

_oOo_

     Akhirnya Aku di Takmili

Alhamdulillah Allah masih berkenan memberikan limpahan karunia-Nya lagi untukku, aku masihdapat melanjutkan hingga jenjang takmili, jenjang yang sudah sekian lama aku tunggu-tunggu (dua tahun bukan waktu yang pendek, bukan, kawan…?)

Berbeda dengan angkatan sebelumnya, walau sudah di takmili  kami masih belajar bersama para ustadzah, persis saat i’dad dulu. Kami berusaha mengambil sisi positif dari keputusan ini dan –ternyata- kami sungguh menikmati belajar kembali bersama beliau-beliau –hafidzahunnallah-. Tak peduli apa kata orang lain, yang penting adalah kita dapat menikmati segala yang Allah takdirkan untuk kita. Ternyata sungguh benar ungkapan yang menyatakan bahwa sikap qana’ah adalah harta yang palingberharga…

Tapi kami kembali dikejutkan dengan kabar terbaru –yang entah bisa disebut sebagai kabarbaik atau buruk- : bahwa soal-soal ujian nihaiy kali ini akan dibuat oleh qism thullab… Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Khairan insya Allah.

Beginilah ujian bagi seorang yang sedang menempuh jalan menuju surga, memang harus banyak ujian, harus penuh dengan tikungan, tanjakan, dan jalan terjal. Semakin pahit apa yang kita rasakan, insya Allah semakin manis hasil yang kita dapatkan.Seperti merasakan manisnya madu setelah mengecap empedu. Allahumma j‘alna minalmukhlishiina li wajhika l kariim…

_oOo_

    Ah,Kawan-kawan Seperjuanganku…

Sungguh  aku kagum pada sosok teman-temanku, semangat mereka  dalam belajar, betapa mereka –di i’dad dulu- berlomba datang lebih pagi demi mendapatkan tempat duduk di barisan depan. Masih kuingat, wajah-wajah yang kadang terlihat  kebingungan di kelas, yang kemudian membuat kelompok belajar usai kuliah, demi memahami pelajaran. Wajah-wajah yang terkadang ketahuan mengantuk, tapi betapa sering terlihat berseri ceria. Wajah-wajah yang sedih ketika tahu mushalla terpaksa harus dijadikan ruang mudarrisaat… Wajah-wajah itu kawan, yang selalu membuatku rindu kembali ke Jakarta setiap liburan. Allahu yubaarik fiihinna…

“Jawwul malaaikiy…”, sebagaimanaa yang diungkapkan oleh seorang ustadzah. Bagaimana tidak, kawan, bukankah malaikat Allah selalu menaungi para pejuang surga? Rasulllah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dan malaikat-malaikat membentangkan sayap-sayap mereka untuk para penuntut ilmu sebagai bentuk keridhoan mereka terhadapnya”

Rasanya garing bila tulisanku ini tak dibubuhi nasehat-nasehat mulia para ustaadzaat. Tentusaja akan kuungkapkan dengan bahasa sederhana, kawan:

“Yang kalian cari disini adalah ilmu, bukan sekedar ijazah. Betapa banyak thalibah lulusan LIPIA yang akhirnnya gak ngerti bahasa arab juga. Apa yang kalian ambil dari selembar ijazah? Ijazah bisa saja kita buang atau kita koyak, tapi ilmu yang ada di dalam tempurung kepala kita, yang ada di hati kita, selama kita menjaganya, akan terus memberikan manfaat bagi kita.”

“Yang paling penting dalam mempelajari bahasa adalah dengarkan dan dengarkan! Dengarkan apa yang ustadzah katakan, kemudian ikuti dan terapkan.”

“Kalian dulu jauh-jauh datang ke Jakarta, berharap bisa diterima di LIPIA, ketika kalian sudah  resmi diterima, diberikesempatan untuk belajar, kalian malah mengharapkan libur tambahan, jika kita mau berfikir, ini adalah sebuah bentuk kerugian, waktu yang seharusnya kita paka iuntuk belajar malah dipakai untuk libur. Seharusnya sudah lebih dari cukup libur dan istirahat pada hari Sabtu dan Ahad. Ana laa uhibbu l ijaazah!”

“Saya tahu, gak ada yang bikin kalian takut kecuali satu kalimat: “Anqushu minki ddarojah.” (Kalo yang ini bener gak yaa?? Hehe)

“Kenapa kalian disini dituntut untuk menggunakan bahasa Arab? Peraturan ini tidak dibuat melainkan untuk kebaikan kalian, semakin sering kalian menggunalan lughah, semakin baik bahasa kalian. Semuanya kembali untuk kalian, kalian yang menentukan rugi dan tidaknya kalian belajar disini.”

Dan akhirnya, Inilah untaian kesan-kesanku selama di kampus biru, tak banyak memang, tapi bukan berarti hanya ini yang kurasakan. Seperti kubilang tadi kawan, bagiku tak mudah mengungkapkan semuanya di lembaran-lembaran kertas.

Ketahuilah kawan, keberadaan kita disini bukan hanya kebetulan belaka. Duduknya kita dibangku-bangku kampus biru ini adalah suratan takdir terindah yang harus kita sadari dan syukuri. Kita telah bersedia memanggul amanah dakwah, kembali berdakwah di tempat dimana kita dilahirkan. Tugas yang kita emban begitu mulia kawan, memperbaiki umat, mendidik generasi mendatang. Tersenyumlah kawan, berbahagialah…

Keberadaan kita kelak, bak mata air di tengah padang Sahara, dicari dan dinantikan…

Iklan