Long Live Education, tak ada kata terlambat… Ganbatte!

Posts tagged ‘Kecil’

Masa Kecil, Masa Penuh Makna

                Kadang kenangan masa kecil membuat kita tersenyum, malu dan tertawa saat mengingatnya, apalagi kesalahan-kesalahan polos yang dulu kita lakukan. Kenangan seperti itu bolehlah dikenang untuk kelak diceritakan ke anak-anak kita (*elus2 perut buncit), bukan sekedar untuk bahan tertawaan, tapi juga untuk bahan pembelajaran, jangan sampai kesalahan yang sama terulang.

                Kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu bersama adik iparku. Dimulai dengan perbincangan ringan mengenai bagaimana aku kelak akan mengajarkan anakku membaca Al-Qur’an sebelum mengajarinya menghafal. Mengingat keluhan beberapa teman mengenai sulitnya mengajarkan anak balita membaca dibandingkan menghafal.

                Adik iparku bercerita, bahwa ia lupa kapan mulai belajar membaca Al-Qur’an, yang ia ingat hanyalah keheranannya saat melihat teman-teman seumurannya baru mulai membaca alif ba’ ta’, sementara ia sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Berbeda lagi denganku, aku baru bisa membaca Al-Qur’an saat menginjak kelas lima, itupun masih terbata-bata, berbeda dengan adik-adikku yang sudah bisa membaca Al-Qur’an dalam usia lebih muda lagi dariku.

                Jelas perbedaannnya adalah pendidikan sejak dini. Bagaimana dahulu orangtuaku kurang memperhatikan aspek agama dalam tumbuh kembangku, sedangkan mereka sudah mulai menekankannya kepada adik-adik sejak mereka kecil. Tak masalah apa yang sudah berlalu, yang penting akhirnya merekapun berusaha ‘memperbaikiku’ meskipun saat itu aku sudah hampir menginjak usia remaja.

                Ada kisah konyol lain berkenaan ‘kepolosanku’ dalam masalah agama. Saat itu aku kelas enam SD, setiap sore aku mengikuti madrasah diniyyah -semacam TPA tapi lebih fokus kepada hafalan Al-Qur’an dan pendalaman ilmu agama- yang merupakan salah satu program ‘perbaikan’ yang dicanangkan orangtua bagiku.

Hari itu ustadzah memberi tugas kami untuk menghafalkan Ayat Kursi dan menyetorkannya besok. Dengan polosnya aku bertanya,

“Kenapa harus dihafal sih ustadzah? Bukannya Ayat Kursi itu Cuma kaligrafi yang biasa dipajang di tembok-tembok itu? Emang ada tah di Al-Qur’an?”

                Mau tak mau teman-teman tertawa mendengarnya, apalagi ustadzah. Padahal saat itu aku adalah pelajar madrasah terbaik yang selalu menjadi peringkat pertama tiap semesternya, tapi sayang sekali belum hafal Ayat Kursi dan bahkan tidak tau hakikat Ayat Kursi. Sungguh terlalu, sungguh memalukan J.

                Setelah lulus SD aku mendaftar di sebuah Pondok pesantren di Solo. Tinggal di penjara suci selama 6 tahun ditambah masa pengabdian satu tahun  jelas membuatku tak lagi sepolos dulu. Tak hanya berhasil menghafal Ayat Kursi, bahkan surat Al-Baqarah dan beberapa juz yang lainnya berhasil kuhafal. Tak sekedar alif ba’ ta’, bahkan kaedah-kaedah bahasa Arab sudah kupelajari.

                Sekarang setelah aku terdaftar dalam daftar mahasiswa Kampus Arab, aku makin merasakan bahwa ini semua adalah nikmat yang tak terkira. Bisa mempelajari Al-Quran, agama Islam, dan bahasa Arab adalah sebuah nikmat besar yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.

                Rasulullah salallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Barangsiapa yang Allah inginkan baginya kebaikan, maka Allah akan menjadikannya orang yang paham agama”.

                Alhamdulillah, alhamdulillah ‘alaa hadzihin ni’am. Betapa banyak yang mendapatkan kesempatan belajar agama justru menyia-nyiakannya dan memilih berhenti. Di sisi lain betapa banyak yang ingin belajar namun waktu dan kesempatan tak mengizinkannya. Sedangkan aku disini, diberi kesempatan dan kemauan, maka tak ada yang patut dilakukan kecuali memperbanyak syukur dan memperbaiki niat.

                Dan kini aku bertekad akan menjadi ibu yang terbaik bagi anak-anakku kelak. Takkan kuizinkan seorangpun mendahuluiku mengjarkan Al-Fatihah kepada anakku, karena Al-Fatihah akan dibaca sepanjang hayatnya, minimal 17 kali sehari. Tidak juga dengan Ayat Kursi, dan bahkan tidak pula alif ba’ ta’. Aku dan suamiku harus menjadi sekolah pertama bagi mereka, yang mengajarkan dasar-dasar agama, akhlak, adab, bahkan bahasa Arab.

                Biarkan kami yang akan mendapat pahala terbanyak dari amal-amal yang kelak mereka lakukan karena kami yang mengajarkannya. Karena mereka adalah ladang bagi kami, kelak mereka yang akan menjadi sumber rahmat saat jasad kami terkubur tanah bertemankan kegelapan. Karena kelak insya Allah mereka juga akan menjadi da’i yang akan mengajarkan agama pada banyak orang.

                Rabbanaa hab lanaa minash shaalihiin… Aamiin.

                Gambar

Jakarta, 22 Maret 2014