Long Live Education, tak ada kata terlambat… Ganbatte!

Posts tagged ‘Orangtua’

Durhakakah Aku Bila…

Kisah ini bukan dongeng, betul-betul terjadi di atas bumi. Tokoh ceritanya adalah orang yang sangat aku kenal. Mau ikut menyimak cerita? Dari sinilah kisah ini bermula.

Suatu hari sekitar tahun 90an,  lahirlah seorang bayi perempuan yang imut dan lucu. Bayangkan betapa bahagia semua orang menyambut kedatangannya yang ditunggu-tunggu. Bisa bayangkan apa yang yang dirasakan semua orang tatkala itu? Seharusnya mereka bersuka cita.

Namun sayang rasa suka harus bercampur duka. Bukan karena si bayi lahir dalam keadaan tak bernyawa atau tak sempurna, namun kedatangannya di dunia juga menghantarkan nyawa lain meninggalkannya, nyawa ibunya. Seorang anak yang lahir dalam keadaan piatu. Beruntung semua orang tetap menyayanginya, tak berkurang sedikitpun.

Si tokoh kecil kita ini tumbuh dengan gelimang kasih sayang, kerabat dekat dan sanak saudara begitu menyayanginya. Apa yang ia minta selalu dituruti, beruntungnya si kecil kita ini bukan tipe orang berhati keras. Ia selalu meminta dengan cara manja anak-anak yang lugu.

Diumurnya yang belum juga menginjak tiga tahun, Ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita. Wanita yang tegas dan berwatak koleris-melankolis. Tak ayal gabungan dua kepribadian kuat ini mendominasi rumah. Sejak saat itu, ia tak lagi dapat bebas menyebut atau mengenang tentang ibu kandungnya. Demi menjaga keharmonisan dan keutuhan keluarga baru mereka.

Yang harus dilakukannya di rumah adalah menganggap sang Ibu tiri layaknya Ibu kandung baginya. Tak ada kata kenang atas Ibu kandungnya.

Tak lama akhirnya ia dibawa ke rumah bibinya untuk dititipkan disana beberapa tahun. Bibinya ini adalah kakak dari Ibu kandungnya. Sangat menyayanginya dan selalu menjadikannya nomor satu dalam hidup. Disana ia mengenal banyak hal tentang sang Ibu. Putri kecil kita ini selalu menangis setiap mendengar tentang Ibunya, entah mengapa, tapi selalu saja ia rindu. Tampaknya tubuh dan pikirannya masih terlalu muda untuk menanggung ujian ini, terlalu muda untuk ditekan terus menerus oleh situasi.

Suatu hari ia bermimpi, bermimpi melihat sosok wanita ada di sebuah ruangan dengan penerangan lampu-lampu emas. Wanita itu hanya diam, tak mengatakan apapun padanya. Tapi entah bagaimana ia tahu itu adalah Ibunya.

Ketika terjaga, anak kecil ini segera berlari menuju bibinya, menceritakan mimpi indah yang dilihatnya. Ia meminta diyakinkan, “Tunjukan foto Ibu padaku,” katanya. Segera sang bibi membukakan album foto besar, “ini Ibumu, nak.” jelasnya. Dan sang putripun menangis. Foto itu, dengan ekspresi yang sama, adalah wanita yang ia lihat dalam mimpinya. Bibinya terharu saat mendengar cerita polos tokoh kita ini.

Singkat cerita, ia tumbuh dewasa, dan sudah mulai melupakan wajah sang Ibu. Gadis kita kini tak mau lagi melihat foto Ibunya, beban hidup yang dirasakannya akan membuatnya menangis bila memandang wajah Ibu. Wajah Ibunya hanya membuatnya makin sedih, lumpuh, dan merasa begitu tak berdaya. Maka cukup baginya untuk mengenang nama Ibu dalam hati dan mengirimkan doa tulus baginya yang tercinta.

Gadis kita ini selalu menjadikan orangtuanya,  sebagai motivator baginya. Apa yang ia lakukan selalu dengan niatan untuk membuat orangtuanya tersenyum. Walaupun Ibu tak melihatnya, tapi ia percaya bahwa pahala kebaikan dan doa yang ia ukir selalu sampai kepadanya. Ia hanya ingin selalu mengirim bagi mamanya hal-hal yang baik. Agar Ibunya disana tahu, bahwa disini, di dunia ini, masih ada anak gadisnya yang selalu ada untuk mendoakannya dan mengharapkan tempat terbaik baginya.

Ia menuliskan nama Ibunya dalam lembaran buku, dan mengukirnya dalam hati. Agar ia bisa menjadi anak shalihah, mendoakan Ibunya, dan kelak bertemu di surga.

Waktu berjalan begitu cepat, akhirnya ia dipertemukan dengan seorang suami lembut yang selama ini diimpikannya. Dan tentu ia ingin memperlihatkan foto mendiang Ibu kepada sang suami. Namun betapa terkejut ia saat  membuka foto Ibu, dan menyadari bahwa ia tak dapat mengenali sosok ibunya.

“Ibu, durhakakah aku? Kupikir selama ini cukup bagiku mengenang nama tanpa wajahmu, bagaimana bisa seorang anak tak mengenali wajah ibunya? bagaimana bisa aku tak mengenali sosokmu dalam kumpulan orang dalam foto ini? Maafkan aku, Ibu, aku tetap menyayangimu..”

Ibu… Mulai saat ini akan kuingat paras cantikmu dalam hati dan pikiranku, kulukis dengan tinta emas berbingkai permata…

Hingga ku tak lagi ragu, bahwa disana, nun jauh disana, ada seorang ratu mulia yang menanti doa dan ucapan terimakasih dari putri kecilnya, doa yang dapat membuatnya mengerti bahwa rasa sakit dan pengorbanan nyawa ternyata tak sia-sia…

Aku sayang ibu, aku rindu ibu, dan akan selalu seperti ini, walaupun kita belum pernah sempat bertatap muka…

Tapi kutahu, dalam darahku mengalir darahmu, dalam hatiku terukir namamu, dan tak akan ada orang yang pernah dapat merubahnya, takkan ada, sekeras apapun mereka berusaha. Karna rasa sayang ini adalah pemberian-Nya, adalah sebuah naluri yang takkan menyelisihi hati nurani…

Rabbi ighfir lahaa, wa r hamhaa, wa ‘aafihaa, wa ‘fu ‘anhaa, wa wassi’ mudkholahaa, wa akrim nuzulahaa,,, :’)

Ceritanya terlalu ringkas ya? Hehe, soalnya kalo diceritain detail sang tokoh nanti bisa penuh nih blogku sama kisah hidup dia. Tapi semoga kisah yang agak kaya dongeng ini bisa diambil manfaatnya ya.. 😀

Dan bersyukurlah bagi kita yang masih memiliki orangtua, banyak-banyaklah berbakti, karena sungguh, kenikmatan hanya bisa kita sadari setelah ia hilang. Jangan sampai suatu saat nanti kamu menyesali perbuatan jelekmu kepada orang tua. Dan bagi yang orangtuanya sudah mendahului berpulang, masih ada cara untuk berbakti, mari kita doakan meraka dengan sebaik-baik doa. Karena doa kalian akan sampai kepada meraka. :,)

Kita doakan ya kawan, semoga tokoh dalam cerita ini dapat dipertemukan kelak dengan ibunya dalam sebaik-baik keadaan. Aamiin…

 

unduhan

Iklan