Long Live Education, tak ada kata terlambat… Ganbatte!

Posts tagged ‘suka duka seorang Ibu’

Alhamdulillah

Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami, pada hari Rabu, 21 Mei 2014, pukul 17.07 di RS Harapan Mulia, Kabupaten Bekasi, dengan selamat dan sehat, yang kami beri nama JIHAN ABDULLAH. Semoga kelak bisa menjadi putri yang shalihah, berbakti pada orang tua, berguna bagi bangsa dan masyarakat, aamiin.

Ya, alhamdulillah proses persalinanku berjalan dengan lancar, walaupun harapan melahirkan dengan normal belum bisa diwujudkan, qaddarullaahu wa maa syaa-a fa’al, semoga semuanya bisa diambil hikmahnya dan menjadi tabungan amalan baik bagi semuanya yang ikut andil dalam menolong proses persalinanku.

Rasanya menjadi ibu baru, yang baru memiliki anak sekaligus baru belajar, rasanya nano-nano. Kadang panik, kadang ketakutan, kadang sedih juga karena belum bisa ngurus bayi dengan profesional, dan kadang bahagia luar biasa bisa memandanng Jihan kecilku dan berlama-lama mengecup pipi mungilnya, terharu…

Saat aku tidur di tengah antara suamiku tercinta dan Jihan kecil, rasanya hatiku melayang. rasa bahagia membuncah memenuhi hatiku. menengok ke kiri, kudapati suamiku tertidur lelap, setelah menempuh perjalanan pulang puluhan kilometer, pengorbanan fisik dan mental yang sama sekali tak mudah, wajahnya terlihat lelah, tapi rona teduh tak hilang darinya. Kemudian kutoleh ke kanan, kudapati Jihan jecilku sedang lelap tertidur juga, wajah putih kemerahan tanpa dosanya itu membuat mataku berkaca-kaca, selamat datang nak, selamat datang di dunia, kini aku dapat puas melihat wajahmu, tak sekedar mengusap-usap perut buncit seperti sebelumnya :’). Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah

Kukecup kening suamiku, ia tak bergeming, kemudian pipi Jihan, buah hati kami, dan air mataku menetesi pipi halusnya, ia menggeliat kecil, lalu kembali terlelap. Allah, terima kasih atas karunia ini, terima kasih, sungguh berdosa bila aku tak mensyukuri dan memenjaga dua nikmat yang Kau berikan ini.

Melihat si Abah menggendong putri kecilnya, membacakan Qur’an untuknya, mengucapkan kalimat “Masya Allah, putri Abah nih”, hingga saat ia menggodai putrinya dengan berbagai keisengannya membuatku selalu tersenyum kecil. Rasa sakit yang kurasakan rasanya lunas terbayar sudah. Ternyata suka duka menjadi ibu adalah keharusan yang hampa bila ditinggalkan salah satu komponennya.

Kini aku mengantarkan suamiku pergi bekerja dengan menggendong si kecil, dan menyambutnya pulang dengan begitu pula. Warna baru, betul-betul warna baru. Karena sebelum ini ia pulang dan pergi hanya dengan mengusap perut buncitku, alhamdulillah…

Allah, nikmat yang Kau anugerahkan begitu besarnya, hadiah yang Kau berikan begitu indahnya, karunia yang Kau titipkan begitu sempurna; suami yang luar biasa, dan kini Kau tambahkan dengan anak yang luar biasa, sungguh sempurna ciptaan-Mu, sungguh besar keagunganMu. 

Allah, mudahkanlah aku untuk menjaga amanah sekaligus nikmat yang Kau titipkan, sebagai istri, dan kini sebagai ibu, aku hanya ingin menjadi yang terbaik bagi mereka, mengerahkan segala yang aku bisa, aku mampui, untuk membuat mereka nyaman hidup bersamaku, membuat mereka bahagia menemaniku, hingga akhir nanti.

Jadikan aku istri yang shalihah sekaligus ibu yang bijak, jadikan suamiku ayah yang bertanggung jawab dan penyayang, kemudian jadikan Jihan kami anak yang baik, yang dapat menjadi tabungan bagi kami saat harta dan tahta tak lagi dapat berarti, saat jasad kami terkubur tanah merah, berselimutkan kegelapan, jadikan ia anak yang shalihah Ya Allah, yang selalu menjadi penyejuk pandangan bagi kami, aamiin aamiin aamiinGambar… 

Jonggol, 30 Mei 2014

Iklan